WILAYAH KEILMUAN PENELITIAN DI LINGKUNGAN PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM


Dr. M. Sa’ad Ibrahim, M.A.

Bismillah al-Rahman- al-Rahim.

A. Pendahuluan

Di lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) terdapat tiga kategori nama, sekaligus menunjuk tingkat atau keluasan otoritas bidang kajian, yaitu sekolah tinggi, institut, dan universitas. Sekalipun demikian ketiga-tiganya biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan al-Jami’ah, suatu terjemahan  yang bermuatan proyeksi ke depan, yaitu menjadi uiversitas.

Belakangan, beberapa di antaranya telah sampai pada harapan proyektif tersebut. Dengan menjadi universitas, wilayah keilmuan yang dimiliki menjadi tak terbatas, sama dengan universitas yang lain. Hanya kemudian universitas dilingkungan PTAI ini secara esensial mesti berbeda, mengingat  dimilikinya atribut al-Islamiyyah, sedang yang lain tidak. Tak pelak, hal tersebut memunculkan – kembali – wacana hubungan antara agama dan sains[1], sekaligus wacana tentang wilayah keilmuan yang secara akademik absah untuk diklaim  perguruan tinggi Islam.

Makalah ini dimaksudkan untuk menjadi bagian wacana tersebut, khususnya wilayah keilmuan sebagai zona penelitian PTAI.

  1. Paradigma Filosofis Keilmuan PTAI

Terdapat banyak aliran yang ditawarkan oleh kajian filsafat tentang definisi ilmu. Ilmu ialah pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan secara ketat metode ilmu. Metode ilmu adalah standart  yang digunakan untuk verifikasi kebenaran suatu pernyataan menjadi pernyataan ilmiah. Standart tersebut meliputi: rasio bagi aliran rasionalisme; empiri bagi madzhab empirisisme; rasio dan empiri bagi pengikut positivisme; intuisi bagi kelompok intuisisme; wahyu untuk fanatis agamis. Bagi aliran fenomenologis, standart tersebut analah nomena, yaitu fakta yang tersembunyi di balik fenomena empiris.

Untuk PTAI – sejalan dengan arus utama pengambilan model integrasi – tampaknya standart tersebut mesti diformulasikan dengan komposisi terstruktur dari yang utama ke tingkat di bawahnya ialah wahyu, rasio, empiri, dan kemudian intuisi. Dengan demikian aliran yang dianut ialah religius positifistis intuitis. Sedangkan standart nomena tidak perlu diambil, karena hal tersebut sudah built in dalam wahyu itu sendiri yang menyatakan diri sebagai ayat, yakni fenomena dari Ilahi.

  1. Agama Sebagai Obyek dan Atribut Studi

Ketika berusaha membuat studi agama sebagai suatu disiplin, Walter H. Capps menawarkan muatan sebagai berikut:

    1. Hakikat Agama;
    2. Asal-usul Agama;
    3. Kandungan Agama;
    4. Fungsi Agama;
    5. Bahasa Agama;
    6. Perbandingan Agama;
    7. Masa Depan Studi Agama.[2]

Tawaran ini, dapat disempurnakan dengan menambahkan muatan-muatan berikut:

    1. Simbol-simbol Agama;
    2. Sumber Agama;
    3. Metodologi Agama;
    4. Pemeluk Agama;
    5. Geografi Agama;
    6. Sosiologi Agama;
    7. Antropologi Agama;
    8. Pendidikan Agama;
    9. Tipologi Agama;
    10. Masa Depan Agama;
    11. Psikologi Agama;
    12. Penyebaran Agama;
    13. Politik Agama;
    14. Ekonomi Agama;
    15. Teologi Agama;
    16. Hukum Agama;
    17. Moral Agama;
    18. Filsafat Agama;
    19. Mistisisme Agama;
    20. Aliran-aliran Agama;
    21. Institusi Agama; bahkan
    22. Ekstrimitas Agama.

Tentu di antara dua puluh sembilan bidang di atas terdapat beberapa bagian yang overlapping, tetapi masih bisa dijelaskan bahwa hal tersebut adalah bagian perluasan dari gagasan Capps di atas.

Agama sebagai obyek studi ini tampaknya menjadi wilayah keilmuan penelitian PTAI untuk kategori  sekolah tinggi dan institut agama Islam. Sedangkan untuk kategori Universitas Islam, di samping mencakup wilayah di atas, juga meliputi kawasan keilmuan penelitian bidang kajian di luarnya, seperti bidang biologi, fisika, astronomi dan lain-lain dengan penekanan bahwa obyek penelitiannya adalah ciptaan sekaligus tanda atau ayat Allah. Dengan demikian penelitian keilmuannya secara esensial punya dimensi sakral transendental, disamping tentu saja profan. Artinya tidak skulairistis.

  1. Epistemologi Wilayah Keilmuan Penelitian PTAI

Seperti diuaraikan sebelumnya, bahwa bagi PTAI standart verifikasi kebenaran pernyataan menjadi pernyataan ilmiah  mesti diformulasikan dengan komposisi terstruktur dari yang utama ke tingkat di bawahnya ialah wahyu, rasio, empiri, dan kemudian intuisi, maka wilayah keilmuan penelitiannya tidak saja meliputi obyek-obyek empiris sensual, tetapi juga obyek intuitif transendental. Apalagi dalam perkembangannya sain sekuler positivistis juga merambah empiris psikis yang kemudian melahirkan ilmu psikologi. Mengapa kemudian ada keberatan terhadap kategori lain semacam empiris spesifik untuk tidak mengatakan tingkat tinggi, seperti intuitif transendental?

Penerimaan terhadap adanya varian empiri ini, paternalistis dengan pandangan kategoris Julianne Ford melalui kutipan Lincoln dan Guba tentang kebenaran. Ia mengajukan kategori Truth1; Truth2; Truth3; dan Truth4.  Disebut T4 jika suatu pernyataan didukung oleh nature atau menurut istilah Ford sendiri  preserves the appearances. Jika sesuai dengan logika, disebut T3. Kalau selaras dengan norma prilaku atau standart profesional, disebut T2. Dikatakan T1 apabila suatu pernyataan tidak memerlukan pembuktikan empiris, logis, maupun etis. T1 adalah kebenaran metafisis yang must be taken for granted.[3] Jelasnya kategori tersebut ialah kebenaran empiris, kebenaran logis, kebenaran etis, dan kebenaran metafisis.

Pembuktian terhadap kebenaran metafisis, tidak seperti pandangan Ford, dapat dilakukan dengan bersandar pada wahyu itu sendiri, logika, intuisi. Bahkan terhadap kebenaran metafisis dapat dibuktikan secara empiris, dengan menghimpun tanda atau fenomenanya, sebagaimana pembuktian yang ditempuh oleh psikologi.

E. Penutup

Dari uraian di atas, disimpulkan bahwa wilayah keilmuan penelitian PTAI untuk sekolah tinggi dan institut agama Islam meliputi seluruh wilayah kajian yang menjadikan Islam sebagai obyek studi. Sedangkan untuk universitas Islam, disamping mencakup hal tersebut juga meliputi bidang kajian lainnya, dengan penekanan bahwa obyek penelitiannya adalah ciptaan sekaligus tanda atau ayat Allah.

Wa Allah A’lam bi al-Shawab.


[1]Perspektif Moderen tentang wacana ini muncul terutama dari Ian G. Barbour, seorang ahli astrofisika sekaligus teolog  Kristen melalui karya monumentalnya When Science Meets Religion, Harper San Fransisco, New York, 2000, suatu karya sistematis metodis kajian relasi sains moderen dan agama.

[2]Capps, Walter H. Religious Studies: The Making of A Discipline, Fortress Press, Minipolis, 1995.  hal. vii-ix.

[3] Ford, Julianne, Paradigms and Fairy Tales (1975) dalam Lincoln, Yvonna S  dan Guba, Egon G. Naturalistic Inquiry, Sage Pablications, Beverly Hills  London  New Delhi,  1984.

This entry was posted in Islam and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s