LATAR BELAKANG MOTIVASI AL-QUR’AN TERHADAP USAHA PENELITIAN ILMIAH DI BIDANG HUKUM


Dr. M. Sa’ad Ibrahim, M.A.


BAB I

PENDAHULUAN

A. Penegasan Judul

Risalah ini berjudul : “Latar Belakang motivasi AL-Qur’an terhadap usaha penelitian ilmiyah di bidang hukum” dengan suatu penegasan sebagai berikut:

“Latar belakang” berarti : dasar suatu tindakan[1], motivasi berarti dorongan[2], Al-Qur’an adalah Kitab Suci Islam[3], terhadap berarti berkenaan dengan[4], usaha searti dengan daya upaya[5], penelitian sama dengan penyelidikan[6], ilmiyah berarti keilmuan bersifat ilmu[7], di adalah kata perangkai yang menyatakan ada pada suatu tempat[8], bidang berarti lapanngan-lingkungan[9], hukum bermakna peraturan dan sebagainya, untuk mengatasi pergaulan hidup dalam masyarakat[10].

Untuk lebih jelasnya ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan latar belakang motivasi Al-Qur’an terhadap usaha penelitian ilmiyah di bidang hukum, adalah : Dasar-dasar tindakan Al-Qur’an memberi dorongan yang berkenaan dengan upaya penyelidikan yang bersifat keilmuan yang ada dalam lapangan hukum yang merupakan peraturan untuk mengatasi pergaulan hidup dalam masyarakat.

B. Alasan Memilih Judul

Dipilihnya judul risalah ini dengan “Latar belakang motivasi Al-Qur’an terhadap usaha penelitian ilmiyah di bidang hukum” adalah mempunyai alas an-alasan sebagai berikut :

  1. Keputusan Rektor IAIN Sunan Ampel Nomor 12/A/13/P/75., tentang pembuatan paper, risalah dan skripsi bab II pasal 4 ayat 5 yang berbunyi sebgai berikut :

“Judul risalah harus sesuai dengan bidang Fakultasnya.Judul itu ditentukan oleh Fakultas dari judul/judul-judul yang diajukan oleh mahasiswa dan tidak boleh sama antara satu mahasiswa dengan mahasiswa lainya”[11]

  1. Pentingnya masalah tersebut dibahas sebagai suatu upaya menjelaskan latar belakang mengapa Al-Qur’an memberi dorongan aktifitas penelitian ilmiyah khususnya di bidang hukum.
  2. Kurangnya pembahasan secara khusus yang memaparkan kebijaksanaan Al-Qur’an dari segi latar belakang Al-Qur’an memotifisir aktifitas  ilmiyah, terutama di bidang hukum.

C. Tujuan Pembahasan.

Tujuan yang diharap akan tercapai dengan pembahsan Risalah ini ialah terwujudnya suatu pandangan yang positif terhadap Al-Qur’an, dalam rangka menghambakan diri setulus-tulusnya kepada Allah Swt. semata-mata. Serta memberikan sumbangsih sesuai dengan kadar kemampuan yang ada – dalam menunjang study keilmuan, khususnya dalam bidang hukum Islam.

Dari pandangan yang positif terhadap Al-Qur’an tersebut, diharap dapat membentuk sikap intelek yang religius dalam memahami aturan-aturan hukum yang diundangkan oleh Al-Qur’an serta mampu menghayati kebenaran dan latar belakang Al-Qur’an memberi motivasi kepada umatnya untuk berusaha mengadakan penelitian ilmiyah, khususnya di bidang hukum.

D. Sistematika Pembahasan

Risalah ini disusun dengan mempergunakan sistematika pembahasan sebagai berikut :

Bab I. Pendahuluan yang meliputi penegasan judul, alas an memilih judul, tujuan pembahasan, sistematika pembahasan serta methodology. Untuk methodology ini dikemukakan tentang permasalahan, hipotesa, scope analisa, penentuan sample, procedure pengumpulan data dan procedure penganalisaan data.

Bab II. Tinjauan tentang Al-Qur’an yang mengetngahkan tentang pengertian Al-Qur’an, makna diturunkan Al-Qur’an dan hikmah diturunkanya Al-Qur’an secara berangsur-angsur.

Bab II. Hubungan Al-Qur’an dengan usaha penelitian ilmiyah yang meliputi pengertian penelitian ilmiyah, pentingnya usaha penelitian ilmiyah, Al-Qur’an memberikan motivasi terhadap usaha penelitian lmiyah dan tujuan Al-Qur’an memberikan motivasi terhadap usaha penelitian ilmiyah.

BAb IV. Latar belakang motivasi Al-Qur’an terhadap usaha penelitian ilmiyah di bidang hukum, yang mengemukakan tentang motivasi Al-Qur’an terhadap usaha penelitian ilmiyah di bidang hukum dan latar belakang motivasi Al-Qur’an terhadap usaha penelitian ilmiyah di bidang hukum. Untuk latar belakang ini dikemukakan tentang landasan berfikir tentang hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an, landasan berfikir tentang kemampuan manusia untuk menciptakan hukum yang diisyaratkan AL-Qur’an dan landasan berfikir tentang pengaruh perubahan dan kemajuan zaman di bidang hukum.

Bab V. Kesimpulan dan saran-saran serta penutup.

Demikian sistematika pembahasan yang hendak ditempuh. Mungkin saja dalam pembahasan antara bab yang satu dengan yang lain kurang mencerminkan jalinan yang erat, namun inilah sementara usaha optimal, semoga mendorong kearah aktifitas usaha penulisan lebih lanjut.

E. Methodologi

Untuk mewujudkan suatu tulisan ilmiyah dipakai berbagai methode. Adapun methode yang digunakan dalam risalah ini dapat ilihat dari hal-hal sebagai berikut :

1. Permasalahan

Penentuan dasar syari’at Islam dengan wahyu Ilahy membawa suatu konsekwensi bahwa tata aturan yang diundangkan oleh Islam berpijak pada kebijaksanaan yang hakiki. Karena justru pembuat tata aturan adalah Dzat yang Maha Bijaksana.

Salah satu dari bentuk wahyu Ilahy adalah Al-QUr’an yang merupakan petunjuk dalam segala aspek keidupan ummat, baik secara individu maupun kolektif.

Sementara itu manusia dalam hidupnya selalu membutuhkan norma-norma hukum yang senantiasa berkembang setiap masa. Sedangkan dalam Al-Qur’an hanya didapat sejumlah minim ayat yang mengundang norma-norma hukum Berpijak dari kenyataan tersebut, jelaslah bahwa Al-Qur’an sendiri menhendaki adanya usaha penelitian ilmiyah di bidang hukum untuk menjawab kemajuan zaman yang selalu menghendaki ketentuan-ketentuan hukum secara pasti dan dapat dipertanggung jawabkan.

Permasalahan terletak pada suatu kenyataan mengapa Al-Qur’an tidak melengkapi saja ketentuan-ketentuan hukum tersebut, tetapi sebaliknya menyerahkan kepada manusia untuk menggali dan meneliti masalah-masalah yang menghendaki penentuan hukumnya. Untuk selanjutnya menetapkan status hukum-hukum masalah-masalah tersebut. Padahal di sau pihak manusia sendiri selalu memiliki alternative dapat menyeleweng dari kebenaran. Adakah hasil penelitian di bidang hukum tersebut dapat dipertanggung jawabkan relevansinya untuk mengatur hidup dan kehidupan manusia baik bersifat individu maupun kolektif?

Untuk itu perlu dipecahkan latar belakang Al-Qur’an memberi dorongan terhadap suatu aktivitas penelitian ilmiyah di bidang hukum tersebut.

2. hipotesa.

Bertitik tolak dari permasalahan yang telah dipaparkan di atas, maka dikemukakan hipotesa sebagai berikut :

  1. bahwa ayat-ayat yang mengandung norma hukum dalam Al-Qur’an sangat terbatas, oleh karena itu perlu adanya usaha penelitian ilmiyah di bidang hukum sesuai dengan kepesatan perubaan dan kemajuan zaman.
  2. Bahwa sekalipun ayat-ayat yang mengandung norma-norma hukum tersebut jumlahnya sangat terbatas namun jangkauan dari ayat-ayat itu sangat jauh, sehingga dapat mencakup secara global pada segala problema yang memerlukan penetapan hukum secara pasti.
  3. Bahwa Al-Qur’an memberikan dorongan terhadap usaha penelitian  ilmiyah di bidang hukum adalah mempunyai latar belakang yang lebih jauh serta sangat bijaksana.

3. Scope Analisa

Analisa yang hendak dilakukan untuk membahas latar belakang motivasi Al-Qur’an terhadap usaha penelitian ilmiyah di bidang hukum berkisar pada :

  1. Tinjauan tentang Al-Qur’an dari segi pengertian, maksud diturunkan dan hikmah diturunkan Al-Qur’an secara berangsur-angsur.
  2. Hubungan Al-Qur’an dengan usaha penelitian ilmiyah
  3. Latar belakang Al-Qur’an mendorong usaha penelitian ilmiyah dib idang hukum.

4. Penentuan Sample

Dalam menentukan sample dipakai cara random sampling, yakni mengambil beberapa ayat hukum untu dianalisa cirri-ciri khas ayat-ayat tersebut, sehingga dapat diketahui latar belakang Al-QUr’an memberi dorongan kepada manusia untuk berusaha mengadakan penelitian ilmiyah, khususnya dibidang hukum.

5. Prosedure Pengumpulan data

Usaha pengumpulan data diperlukan sebagai bahan pembahasan dalam risalah ini telah dilakukan dengan menempuh prosedur library research pada :

  1. Perpustakaan pusat IAIN Sunan Ampel Surabaya
  2. Perpustakaan Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya.
  3. Perpustakaan pribadi.

6. Prosedure penganalisaan data

Untuk mewujudkan suatu tulisan ilmiyah, dipakai berbagi prosedur penganalisaan data. Adapun risalah ini, menempuh prosedur penganalisaan data sebagai berikut :

  1. Comperative, yaitu : memperhatikan dengan seksama data-data yang telah terkumpul, kemudian data-data itu disbanding-bandingkan sebagai suatu landasan untuk menentukan pendirian lebih lanjut.
  2. Analitis, yaitu : Penyelidikan dengan jalan mengumpulkan data, mula-mula disusun, dijelaskan, kemudian dianalisa.

Akhirnya, kendatipun telah diusahakan dengan mencurahkan segala upaya dan kemampuan dalam mewujudkan risalah ini, namun sungguh disadari, adanya berbagai kekurangan dan ketimpangan di luar kesengajaan. Untuk itu kepada Allah Swt. juga, permohonan ampun dipanjatkan. Semoga tulisan yang sederhana ini dapat mengantar kea rah pengabdian yang tulus ikhlas kepada Allah Swt., serta bermanfaat dalam menunjang ilmu pengetahuan.

Billahit taufiq wal hidayah.

BAB II

TINJAUAN TENTANG AL-QUR’AN

A. Pengertian Al-Qur’an

Tinjauan terhadap pengertian Al-Qur’an dari segi bahasa diperoleh berbagai pendapat yang berkembang dikalngan para ulama. Pengertian-pengertian tersebut antara lain bahwa kata Al-Qur’an adalah bentuk  masdar, sinonim dengan kata  “القراءة ”. Dari arti ini digunakan bentuk masdarnya dan dijadikan suatu nama untuk menyebut firman Allah yang memiliki daya I’jaz yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Kata tersebut searti dengan : isim maf’ulnya yaitu :  “المقرؤ ”. Demikian pendapat Al-Lihyani dan beberapa golongan lain[12].

Sementara itu Asy Syafi’I lebih cenderung menganggap bahwa Al-Qur’an bukan kata jadian (isim musytaq) melainkan isim alam, khusus untuk menyebut himpunan Firman Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw[13].

Berbeda dari pendapat-pendapat tersebut Al-Asy’ari berpendirian bahwa kata Al-Qur’an diambil dari kata “ قرن ” yang berarti menggabung sesuatu dengan sesuatu yang lain. Kemudian kata Al-QUr’an itu digunakan unuk menyebut Firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, mengingat antara surat dengan surat ayat dengan ayat dan huruf dengan hurufnya beriring-iringan dan yang satu digabung dengan yang lain[14].

Ada pula yang berpendapat bahwa kata Al-Qur’an diambil dari kata “قرء ” (Qor’u) yang berarti mengumpulkan[15]. Menurut Az-Zajjad, dinamai demikian karena Al-Qur’an mengumpulkan beberapa surat atau mengumpulkan inti kitab-kitab yang telah lalu[16].

Yang lain mengatakan bahwa kata Al-Qur’an diambil dari kata : “قران ” yang bermakna karinah-karinah[17]. Menurut Al-Farra’, karena ayat-ayat AL-Qur’an itu satu sama lain saling benar membenarkan. Untuk selanjutnya digunakan nama resmi untuk menyebut Firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw[18].

Dari berbagai pendapat yang dipaparkan di atas, Al-Qur’an berarti yang dibaca adalah pendapat yang dapat dipandang kuat mengingat hal tersebut justru memberikan isyarat bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang paling luas dibaca diseluruh dunia . suatu isyarat yang sampai dewasa ini tetap terbukti kebenaranya. Lagi pula secara implicit memberi suatu jangkauan, bahwa Al-Qur’an mendukung penuh terhadap ilmu pengetahuan yang salah satu factor esensialnya adalah aktifitas membaca. Di lain pihak dijumpai pula ayat Al-Qur’an yang memberi pengertian seperti tersebut di atas.

Sebagaimana Firman Allah Swt.

ان علينا جمعه وقرأنه فإذا قرأنه فاتبع قرأنه

Artinya :

Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkanya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaanya itu[19].

Adapun pengertian Al-Qur’an dari segi istilah diperoleh berbagai pendapat di kalangan para ulama’. Bagi ulama yang berkecimpung di bidang teologi memberikan batasan terhadap pengertian Al-Qur’an dengan :

الصفة القديمة المتعلقة بالكلمات الحكمية من أول الفاتحة إلى آخر سورة الناس

“Al-Qur’an adalah sifat yang Qodim yang bersangkut paut dengan firman-firman yang bijaksana dari permulaan surat Al-Fatihah sampai dengan akhir surat An-Nas”[20].

Sementara itu para ahli Ushul Fiqih yang memberikan batasan pengertian Al-Qur’an secara ringkas mengemukakan bahwa al-Qur’an adalah :

اللفظ المنزل على النبي صلعم من أول الفاتحة إلى آخر سورة الناس

“Al-Qur’an adalah lafadz yang diturunkan kepada Nabi Saw. dari permulaan AL-Fatihah sampai dengan akhir surat An-Nas”[21].

Sedang yang memberikan batasan pengertian Al-QUr’an agak luas mengemukakan bahwa Al-Qur’an adalah :

الكلام المعجز المنزل على النبي صلعم المكتوب في المصاحف المنقول بالتواتر المتعبد بتلاوته

“Al-Qur’an adalah Firman yang memiliki daya I’jaz yang diturunkan kepada Nabi Saw. yang tertulis di dalam mushhaf-mushhaf yang dinukil dengan jalan mutawatir yang termasuk beribadah jika dibacanya”[22].

Adapun yang memberi batasan antara ringkas dan luas, mengemukakan bahwa Al-Qur’an adalah :

اللفظ المنزل على النبي صلعم المنقول عنه بالتواتر المتعبد بتلاوته

“Al-Qur’an adalah lafadz yang diturunkan kepada Nabi Saw. yang dinukil dengan jalan mutawatir yang dianggap beribadah bila dibacanya”[23].

Pengertian Al-Qur’an secara panjang lebar di kemukakan oleh Abdul Wahab Khollaf sebagai berikut :

كلام الله الذي نزل به الروح الآمين على قلب رسول الله محمد ابن عبد الله بألفاظه العربية معانيه الحقة، ليكون حجة للرسول على أنه  رسول الله، و دستورا الناس يهتدون بهداه، و قربة بتعبدون بتلاوته و هو المدون بين دفتي المصحف المبدوء بالسورة الفاتحة المختوم بسورة الناس، المنقول إلينا بالتواتر كتابة و مشافهة جيلا عن جيل محفوظا من أي تغييرأو التبديل مصداق قول الله سبحانه فيه إنا نحن نزلنا الذكر و إنا له لحافظون

“Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang diturunkan oleh Ruhul Amin kedalam dada Rosulullah Muhammad putra Abdillah dengan menggunakan bahasa Arab dengan arti yang benar sebagai suatu bukti bagi Rosulullah untuk mengukuhkan keRasulanya dan merupakan undang-undang yang memberikan petunjuk buat manusia dan merupakan sarana untuk mendekatkan diri dalam rangka beribadah dengan membacanya dan dibubukan diantara dua tepi Mushahaf yang dimulai dari Surat Al-Fatihan dan disudahi dengan Surat An-Nas, yang samapi kepada kita dengan jalan mutawatir secara tertulis dan hafalan dari generasi ke generasi berikutnya, selalu terpelihara dari segala perubahan dan pergantian yang membuktikan kebenaran Firman Allah Swt. : Sesungguhnya Kami telah menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an) dan sungguh tetap memeliharanya[24].

Prof. Dr. Hasbi Ash-Shiddiqie mengemukakan keringkasan Al-Qur’an dengan : wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Muhammad Rosulullah Saw, dan telah sidampaikan kepada kita umatnya dengan jalan mutawatir, yang dihukumi kafir orang yang mengingkarinya[25].

Dari pengertian-pengertian yang dikemukakan di atas maka tidak boleh disebut Al-Qur’an :

  1. Firman Allah yang diterimakan kepada Nabi atau Rosul sebelmum Muhammad
  2. Friman Allah yang langsung dicampakkan kedalam lubuk hati Nabi Muhammad Saw tanpa perantaraan Jibril.
  3. Terjemahan atau salinan teks Al-Qur’an kedalam bahasa Ajam atau bahasa Arab sekalipun.

B. Maksud diturunkan Al-Qur’an.

Pada prinsipnya Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw adalah dimaksudkan sebagai petunjuk umat manusia untuk mencapai takwa sebagai suatu sarana memperoleh kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak, Firman Allah Swt.

الم. ذلك الكتاب لا ريب فيه هدا للمتقين

Alif Laam Mim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya : petunjuk abgi mereka yang bertakwa[26].

Yang dikehendaki dengan Al-Kitab di sini adalah kitab yang terkenal dengan Al-Qur’an, yang dijanjikan oleh Allah untuk menurunkanya guna menguatkan Risalah Nabi, buat pedoman Nabi Saw dalam menuntun dan menunjuk pra umat yang menghendaki kebenaran kepada kebahagiaan di dunia dan diakhirat, demikian Hasbi Ash-Shiddiqie[27].

Di lain tempat beliau menulis : Allah menurunkan Allah adalah untuk menjadi petunjuk kepada segenap mereka yang suka berbakti : untuk menjadi penyuluh kepada segala hamba yang tunduk dan menurut : untuk menjadi pedoman hidup dunia dan akhirat[28].

Untuk menjabarkan maksud diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk tersebut dapat dilihat dari peranan Al-Qur’an sebagai berikut :

1. Sebagai korektor kitab-kitab suci yang telah diturunkan

dalam hal ini Maulana Muhammad Ali, menjelaskan : “… Tetapi satu hal yang mendapat perhatian yakni baik pada waktu membahas ajaran pokok agama maupun berhubungan dengan sejarah, Al-Qur’an suci memperbaiki kitab suci yang sudah-sudah[29]. Allah Swt telah menjelaskan dengan Firmanya :

و أنزلنا عليك الكتاب بالحق مصدقا لما بين يديه من الكتاب و مهيمنا عليه

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu”[30].

Dimaksud dengan batu ujian kitab-kitab yang lain adalah, bahwa Al-Qur’an adalah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan kitab-kitab sebelumnya[31].

2. Sebagai Hakim Atas Segala Berselihan Umat yang sudah-sudah.

Dalam hal ini Allah Swt, berfirman :

ز ما أنزلنا عليك الكتاب إلا لتبين لهم الذي اختلفوا فيه و هدى و رحمة لقوم يؤمنون

“Dan KAmi tiadalah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an ini) melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka perselisihan itu dan menjadi petnjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”[32]

3. Sebagai Penyuluh dan Penerang Bagi hambanya yang mau tunduk dan patuh kepadanya

Tentang hal ini Allah Swt Berfirman :

و نزلنا عليك الكتاب تبيانا لكل سيئ و هدى و رحمة و بشرى للمسلين

“Dan KAmi turunkan kepadamu Al-kitab (Al-Qu’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi prang yang berserah diri”[33].

Hasbi menyimpulkan penjabaran dari maksud diturunkanya Al-Qur’an sebagai petunjuk tersebut dengan :

  1. Memperbaiki kepercayaan dan meluruskan I’tikad.
  2. Melempangkan akhlaq, membersihkan budi pekerti.
  3. Menetapkan segala rupa hukum yang dihajati pergaulan hidup masyarakat bani insane di dalam dunia[34].

Demikianlah maksud diturunkanya Al-Qur’an sebagai petunjuk manusia.

Disamping itu Al-Qur’an diturunkan juga dimaksudkan sebagai mukjizat Kerasulan Muhammad yang merupakan suatu sarana dipercaya dan ditaatinya segala aturan syara’ yang dipangku oleh beliau.

Kemukjizatan Al-Qur’an tampak pada suatu kenyataan bahwa sampai dewasa ini tidak seorangpun dari sarjana dan ahli hukum maupun menandingi Al-Qur’an sekalipun hanya satu surat.

Al-Qur’an sendiri menentang sebagainmana firmanb Allah Swt.

و أن كنتم في ريب مما نزلنا على عبدنا فأتوا يسورة من مثله و ادعوا شهداءكم من دون الله إن كنتم صادقين

“Dan jika kamu tetap dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang kami wahyukan kepad ahamba kami (Muhammad), buatlah satu surat saja yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu memang orang-orang yang benar”[35].

C. Hikmah diturunkan Al-Qur’an secara berangsur-angsur.

Ijma’ul Ummah mengakui bahwa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur. Hal ini dengan resmi dinyatakan oleh Al-Qur’an sendiri melalui ayat 32, surat Al-Furqan, dan ayat 106 surat Al-Isra’ :

و قال الذين كفروا لولا نزل عليه القرآن جملة واحدة كذلك لنثت به فؤادك و رتلناه ترتيلا

Artinya : Berkatalah orang-orang yang kafir : “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya dengan sekali turun saja?”. Demikianlah, supaya Kami perkuat hatimu denganya dan KAmi membacanya kelompok demi kelompok”[36].

و قرآنا فرقناه لتقراه على مكث و نزلناه ترتيلا

Artinya : “Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakanya perlahan-lahan kepada manusia dan KAmi menurunkanya bagian demi bagian”[37].

Sebenarnya hikmah keberangsuran tersebut hanya hikmatut ilahiyah saja sanggup menjajagi kemanfaatan hakiki dibalik proses keberangsuran Al-Qur’an. Sekalipun demikian dari pemikiran-pemikiran para ulama’ dapat dikemukakan tentang hikmah keberangsuran Al-Qur’an sebagai berikut :

1. Selain berkedudukan sebagai petunjuk Allah bagi segenap hamba-Nya ; Al-Qur’an berfungsi pula sebagai mu’jizat atas nubuwat Muhammad Saw. Bersama keberangsuran Al-Qur’an sampai saat terlengkapi seluruh ayat Al-Qur’an tetapi toh sastetarawan-sastwrawan Arab tidak mampu menjawab tantangan Al-Qur’an agar mereka membuat sepadan satu ayat daripadanya. Pembuktian atas ketidak mampuan mereka menghajatkan keberangsuran Al-Qur’an.

2. Membantu mempermudah penerimaan Al-QUr’an dan ikhtiar memahaminya baik oleh peribadi Nabi atau lebih ummatnya seperti diketahui bahwa RAsulullah probadi adalah seorang buta tulis, ummatnyapun bagian terbesar terdiri dari orang-orang yang ummi. Mereka hanya mungkin menguasai bacaan Al-Qur’an dengan methode menghafal. Berkat keberangsuran Al-Qur’an, maka menjadi mudah dan cepat penguasaan ummat Islam terhadap Al-Qur’an.

3. Ayat-ayat dalam Al-Qur’an banyak terdiri dari jenis lafadz-lafadz ghorib (terlalu jarang digunakan oleh kalangan masyarakat awam). Kesulitan menghadapi ayat-ayat ghorib ini banyak teratasi lantaran berangsur-angsurnya ayat-ayat Al-Qur’an turun.

4. Sehubungan dengan system bertahap di dalam mengundangkan Al-Qur’an, maka keberangsuran Al-Qur’an adalah merupakan tuntutan mutlak.

5. Manusia selaku individu maupun sebagai anggota dalam kelompok masyarakat selalu memperlihatkan reaksi menentang terhadap segala bentuk pembaharuan. Justru dengan mengundangkan Al-Qur’an tepat pada suasana masyarakat membutuhkan, bertahap sesuai dengan tuntutan perkembangan kebutuhan manusia, maka reaksi-reaksi itu dapat dibatasi sekecil mungkin.

6. Kepercayaan jahiliyah warisan dari nenek moyang bangsa Arab sudah menadrah daging di kalanagan mereka. Keadaan masyarakat separah itu memerlukan perbaikan secara bertahap, lebih dahulu dengan menanamkan sendi-sendi aqidah Islamiyah. Bersama dengan kedewasaan aqidah mereka, baharu memungkinkan adanya penmpaan hukum syari;at Islam, serasi dengan sistem bertahapnya usaha merehabilitir mereka, maka sangat tepat Al-Qur’an juga bertahap di dalam mengundangkan hukum-hukumnya.

Jadi proses penerimaan Al-Qur’an dengan cara berangsur-angsur itu mengandung manfaat sebagai berikut :

  1. Therapi kejiwaan secara umum.
  2. Methodus untuk mendidik ummat.
  3. Taktis khusus untuk menempatkan berlakunya hukum Al-Qur’an.

BAB III

HUBUNGAN AL-QUR’AN DENGAN USAHA PENELITIAN ILMIYAH

A. Pengertian penelitian ilmiyah

Kata yang searti dengan penelitian ilmiyah adalah penyelidikan ilmiyah,[38] yang searti juga dengan research[39].

Kamus The Advanced Learner’s Dictionary of current English, menerngkan kata research dengan :

“ Investigation undertaken in order to discover new facts, get additional information, etc[40].

Tinjauan dari segi kuantitatif terhadap pengertian penyelidikan ilmiyah ini dikemukakan oleh Prof. Dr. Winarno Surachmad sebagai berikut :

“Methode penyelidikan yang bersifat ilmiyah terdiri dari kegiatan yang sistematis dan terkontrol secara empiris terhadap sifat-sifat dan hubungan-hubungan antara berbagai variable yang diduga terdapat dalam fenomena yang diselidiki”[41].

Sementara itu Prof. Drs. Sutrisno Hadi, MA. Mengemukakan devinisi research dengan menuinjau dari segi tujuannya sebagai berikut :

“ usaha untuk menentukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan, usaha mana dilakukan dengan menggunakan metode-metode ilmiah”[42]

hampir senada dengan defini di atas adalah apa yang dikemukakan oleh J. Supranto. Ia mengemukakan defini reser sebagai berikut :

“ reset merupakan suatu kegiatan pengumpulan, pengolahan, penyajian dan analisa data yang dilakukan sev\cara sistematis dan efisien untuk memecahkan suatau persoalan atau menguji suatu hipotesa “.[43]

Dari pengertyian-pengertian yang telah dipaparkan, dapatlah dikemukakan bahwa penelitian ilmiyah adalah salah satu metode yang bertaraf keilmuan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan. Berbeda dengan metode-metode lain, maka penelitian ilmiah dalam menemukan kebenaran berpijak pada berbagai data yang dapat dipertanggungjawabakan penganalisaannya untuk memperoleh konklusi falid.

B. pentingnya usaha penelitian ilmiah

Adalah suatu kenyataan, bahwa manusia dalam perjalanan hidupnya selalu terklibat dengan hasrat ingin tahunya. Hasrat ini merupakan suatu pendorong terhadap usah menemukan jawaban terhadap berbagai problema yang dihadapi. Bahkan dapat dikatakan bahwa hasrat ingin tahu ini merupakan bekal yang esensial untuk mencapai kemajuan budaya dan peradaban manusia.

Dalam memecahalkan berbagai problema yang dihadapi, serta menemukan jawaban yang memuaskan, manusia memiliki berbagai cara dan metode. Di antara metode-metode tersebut adalah penelitian atau penyelidikan ilmiah, dan metode inilah yang dianggap dapat dipertanggungjawabkan kefaliditasaannya dalam menemukan jawaban terhadap problem yang dihadapi. Dalam hal ini prof. Dr. Winarno Suratmant menyetakan :

“peneylidikan, sebagai cara memecahkan yang dipakai dalam ilmu pengetahuan, merupakan penyerpuan cara-cara lebih dahulu dikenal manusia. hanyalah dengan mengumpulkan pengetahuan dan pengalaman selama perjalanan sejarah manusia akhirnya menemukan jalan yang lebih banyak memberi kepastian akan kebenaran hasilnya. Dengan perpaduan pemikiran dan pengalaman itu, mungkinlah manusia bergerak lebih jauh, luas, lebih mendalam. Sebagai hasil semua ini maka gerak peradaban manusia adalah gerak maju, gerak progresif “.[44]
Lebih jauh tentang pentingnya usaha penelitian ilmiyah ini dapat dianalisa dari segi tujuan usaha tersebut. Dalam hal ini Prof. Dr. Sutrisno HAdi, M.A mengemukakan tujuan riset sebagai “menemukan” mengembangkan dan menguji kebenran suatu pengetahuan”[45].

Sementara itu J. Supranto, M.A melihat pentingnya usaha penelitian ini dengan mengemukakan bahwa :

“… maksud dari pda menjalankan riset ialah untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan atau soal-soal melalui aplika suatu prosedur ilmiyah (scientific procedures) yang sistematis”[46].

Dari uraian-uraian di atas dapatlah dikemuakkan bahwa pentingnya usaha penelitian ilmiyah dapat dilihat dan suatu kenyataan sebagai berikut :

  1. Penelitian ilmiyah adalah salah satu sarana untuk menyalurkan hasrat ingin tahu manusia.
  2. Penelitian ilmiyah adalah suatu sarana yang menyempurnakan sarana-sarana yang telah ada dalam menemukan jawaban yang valid dari berbagai masalah.
  3. Penelitian ilmiyah bertujuan menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.

C. Al-Qur’an memberi motivasi terhadap usaha penelitian ilmiyah.

Salah satu kebijaksanaan Al-Qur’an yang sangat menonjol adalah bahwa Al-Qur’an dalam membawakan petunjuk senantiasa selaras dengan fithrah manusia. diantara fithrah manusia ialah adanya suatu kehendak dalam dirinya untuk mengembangkan keinginanya. Fithrah yang demikian ini memperoleh tempat yang sangat wajar dan Al-Qur’an sendiri mendorong untuk mengembangkan sampai mencapai taraf keilmuan. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya berbagai ayat Al-Qur’an yang memerintahkan untuk menyelidiki kejadian alam dengan mempergunakan akal fikiran. Sebagaimana Friman Allah Swt.:

و اختلاف الليل و النهار و ما أنزل الله من السماء من رزق فاحيا به الأرض بعد موتها و تصريف الرياح ايت لقوم  يعقلون

Artinya : “Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya ; dan pada perkiraan angina terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal”[47].

Ayat ini memberikan keistimewaan kepada golongan manusia yang berfikir tentang kejadian dan keadaan alam yang dari hasil pikiran itu akan mengantar mereka untuk meyakini kekuasaan Allah Swt.

Pada ayat yang lain, Al-Qur’an melaran mengikuti suatu tindakan tanpa pertimbangan pengetahuan dan ilmu.

Sebagaimana Firman Allah Swt. :

و لا تقف ماليس لك به علم إن السمع و البصر و الفؤاد كل أولئك كان عنه مسؤولا

Artinya : “ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, (karena) sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan ditanya”[48].

Sayid Rasyid Ridla menjelaskan tentang ayat ini dengan :

Artinya : “Yakni janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan yang menetapkan pentingnya pendirianmu, baik dengan alas an yang didasarkan atas ru’yah bashoriyah maupun riwayat sam’iyah atau bukti-bukti nyata. Karena sesungguhnya Allah akan meminta pertanggunggungan jawab terhadap segala yang dianugerahkan kepadamu dari ketiga sarana ilmu ini.[49]

Dimaksud dengan ketiga sarana ilmu adalah : pendengaran, penglihatan dan pimikir/hati.

Jelaslah bahwa penyelidikan yang dikehendaki oleh Al-Qur’an adalah penyelidikan yang bersifat ilmiyah. Artinya penyelidikan yang didasarkan atas berbagai data baik yang diperoleh melalui sarana pendengaran dengan interview misalnya melalui sarana penglihatan, atau pemikiran.

Lebih lanjut hal ini dibuktikan dengan adanya suatu kenyataan bahwa Al-Qur’an menganggap kelompok ilmuwan adalah kelompok yang paling dapat diharap memiliki kadar yang sempurna dalam mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah.

Sebagaimana Firman Allah Swt. :

Artinya : Dan demikian (pula) diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya) ; sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama’. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa lagi maha Pengampun”[50].

Demikianlah Al-Qur’an sangat memuliakan para ulama dan ilmuwan yang selalu berusaha mengembangkan ilmu pengetahuan dengan berbagai aktifitas penelitian ilmiah.

Prof. Dr. Muhammad Ghollab menyatakan :

“… kebenaran yang tidak ada celanya ialah bahwa penyelidikan akal, karya daya cipta, pikiran, pertentangan teory-teory, usaha-usaha ilmu pengetahuan … dan dengan rinmgkas segala cabang pengetahuan manusoa tidak pernah diperangi oleh Islam dengan peperangan apapun juga, bahkan sebaliknya dia malah memerintahkan dan menghasung untuk mendalaminya.[51]

dari uraian yang telah dipaparkan jelaslah bahwa Al-Qur’an yang menjadi dasar pokok ajaran Islam selalu memberikan dorongan terhadap aktifitas penelitian yang bertaraf keilmuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan ketaraf yang lebih sempurna.

D. Tujuan Al-Qur’an Memberikan Motivasi Terhadap Penelitian ILmiyah.

Al-Qur’an adalah kalamullah yang sangat memuliakan ketinggian ilmu pengetahuan. Dalam hal ini Sayid Rasyid Ridla menulis :

Artinya : “ AL-QUr’an memuliakan puncak ilmu pengetahuan dengan suatu kemuliaan yang tidak ada bandinganya. Sebagaimana firman Allah : “Allah mengatakan bahwasanya tidak ada TUhan melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)”[52].

Dari ayat yang dikuti Sayid Rasyid Ridla ini lebih jauh dapat dianalisa bahwa para ilmuwan adalah orang-orang yang lebih dapat diharap akan memiliki iman yang kokoh terhadap ke-Esaan dan Keadilan Allah Swt. Orang-orang tersebut senantiasa disibukkan dengan berbagai aktifitas penelitian yang bersifat keilmuan. Untuk selanjutnya dari hasil penelitian itu akan mengantar mereka ke taraf iman yang lebih sempurna dan kokoh.

Tentang hal ini Muhammad Abduh menulis sebagai berikut :

“ Dasar pertama dalam pembinaan Islam ialah : penelitian yang berdasarkan akal. Penelitian menurut Islam merupakan jalan untuk mencapai iman yang betul, karenanya Islam membimbing anda ke mahkamah akal berdasarkan bukti”[53].

Sementara itu Abdullah Siddik SH dalam Islamologinya menyatakan :

“ Sungguh dengan bertambah maju ilmu pengetahuan yang berarti bertambah cerdas akal manusia, bertambah terbuka rahasia-rahasia alam olehnya, sehingga menerbitkan kekaguman kebesaran dan kekuasaan Allah maka bertambah dekatlah manusia berilmu itu kepada Tuhannya, jika ia disertai dengan ilman yang usngguh-sungguh”[54].

Dalam pada itu Sidi Gazalba berpendapat bahwa hal-hal yang gaib nisbi dalam agama hanya mungkin dipecahkan ileh ilmu. Tanpa ilmu serta sistem berfikirnya, hal-hal yang gaib akan ditafsirkan secara bukan-bukan. Maka yang gaib itu menjadi dongeng, karena rasa dibiarkan bermain bebas tanpa control rasio[55].

Dari uraian  yang telah dikemukakanya nyatalah bahwa tujuan Al-Qur’an memberikan motivasi terhadap aktifitas penelitian yang bertaraf keilmuan adalah untuk membentuk pribadi-pribadi yang memiliki disiplin ilmiyah. Dan dari pribadi-pribadi yang demikian itu akan mampu melahirkan kadar iman yang lebih tinggi. Sebaliknya usaha penelitian ilmiyah yang tidak dapat mengantar yang bersangkutan ketaraf iman yang lebih sempurna bukanlah penelitian yang mendapat tempat yang wajar menurut ajaran Al-Qur’an.

BAB IV

LATAR BELAKANG MOTIVASI AL-QUR’AN TERHADAP USAHA PENELITIAN ILMIYAH DI BIDANG HUKUM

A. Al-Qur’an memberi motivasi terhadap usaha penelitian ilmiyah di bidang hukum

Usaha penelitian ilmiyah di bidang hukum dapat dilakukan dari tiga segi :

Pertama : Usaha penelitian ilmiyah dari segi materi hukumnya.

Kedua : Usaha penelitian ilmiyah dari segi obyek dan subyek hukumnya.

Ketiga : Usaha penelitian ilmiyah dari segi penerapan hukumnya.

Usaha penelitian ilmiyah dari segi materi hukumnya adalah usaha untuk memperoleh suatu ketentuan hukum atau untuk memperluas berlakunya suatu ketentuan hukum dari suatu sumber hukum yang bersifat umum.

Hal ini dapat dibandingkan dengan pengertian ijtihad dalam arti yang lebih sempit. Untuk ijtihad Asysyaukani mendefinisikan dengan :

Artinya : Suatu upaya mencurahkan kemampuan untuk memperoleh hukum syara’ yang bersifat praktis (amaliyah) dengan jalan istimbat[56].

Sedang Abu Zahrah mengemukakan pengertian ijtihad sebagai berikut :

Ijtihad ialah : Upaya seorang faqih mencurahkan kemampuanya dalam mengistimbatkan hukum-hukum amaliyah dari dalil-dalilnya yang tafsily[57].

Dari pengertian dia tas nyatalah bahwa ijtihad adalah merupakan suatu upaya untuk memperoleh hukum syara’ atau untuk memperluas berlakunya hukum syara’ dari dalil syar’I yakni Al-Qur’an dan As Sunnah.

Untuk usaha I ni Al-Qur’an memberi motivasi sebagaimana Firman Allah.

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada allah 9Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih uatama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”[58].

Dari Firman ini difahami bahwa yang dimaksud dengan mengembalikan kepada allah dan Rasulnya ialah bagi orang-orang yang mempelajari al-Qur’an dan As Sunnah supaya meneliti hukum yang ada alasanya. Agar bisa diterapkan terhadap peristiwa-peristiwa hukum yang lain. Hal yang demikian ini berarti ijtitihad.

Untuk usaha penelitian ilmiyah dari segi keadaan obyek dan subyek hukumnya dimaksudkan agar ketentuan sesuatu hukum dapat dipandang patut penerapanya terhadap objek dan subjeknya. Misalnya : dari suatu ketentuan hukum yang mengatakan “orang gila tidak wajib sholat”. Dalam hal ini perlu diadakan suatu penelitian ilmiyah terhadap keaaan orang yang bersangkutan. Apakah ia patut disebut gila atau tidak. Untuk itu dapat dilakukan oleh orang yang memiliki keahlian di bidang kejiwaan (psyciater).

Dalam hal ni Al-Qur’an memotivisir dengan ayatnya sebagai berikut :

Artinya : “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengethauan jika kamu tidak mengetahui”[59].

Dari ayat ini difahamkan bahwa untuk meneliti suatu keadaan tertentu, dapat ditanyakan kepada orang-orang yang memiliki spesialisasi di bidang yang bersangkutan.

Sementara itu usaha penelitian lmiyah dari segi penerapan hukumnya dimaksudkan untuk melitah ada tidaknya suatu keselarasan pelaksanaan hukum tersebut dengan yang di hukumi. Jika tidak ada keselarasan maka  tidak ada hukum. Misalnya, suatu ketentuan hukum yang mengatakan : “hukum makan daging babi haram”. Dalam keadaan darurat hukum tersebut tidak dapat diterapkan ,karena tidak adanya keserasian, dan justru malah menyulitkan. Akibat lanjut dari usaha penelitian ilmiyah dari segi penerapan hukumnya ini mengharuskan suatu penganalisaan terhadap sebab-sebab ketidak selarasan tersebut. Dalam contoh diatas sebabnya adalah “dlarurat”. Oleh karena itu analisa untuk menemukan batasan dlarurat, merupakan suatu keharusan yang mesti dilakukan.

Setidak-tidaknya hal tersebut dapat difahami dari Firman Allah yang memberi motivasi kearah itu, yaitu :

Artinya : “maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan”[60].

Menurut Firman Allah ono bahwa orang yang dapat mengambil ibarat adalah yang ahli memahami dengan merenungkan suatu masalah. Dan ini berarti mengharuskan suatu upaya untuk menentukan ada tidaknya suatu keselarasan dari suatu ketentuan hukum terhadap yang dihukumi.

B. Latar belakang motivasi Al-Qur’an terhadap usaha penelitian ilmiyah di bidang hukum

Al-Qur’an adalah klamullah yang memberikan norma-norma untuk kepentingan hidup dan kehidupan manusia, baik yang bersangkut-paut dengan hubungan antara manusia dan Tuhan maupun hubungan antara sesame manusia. oleh karena Al-Qur’an adalah Kalamullah, maka norma-norma itu sendiri selalu berpijak pada kebijaksanaan yang hakiki, sebagai suatu konsekwensi ke-Maha Bijaksanaan Allah.

Karena Al-Qur’an itu berisi norma-norma saja, maka sudah barang tentu tidak bisa dikatakan sebagai “undang-undang yang tersusun secara sistematis”[61].

Dari demikian banyak norma-norma yang dibentangkan dalam Al-Qur’an, maka norma hukum yang mengatur hubungan antara sesame manusia adalah merupakan suatu norma yang senantiasa mengalami perkembngan sesuai dengan perkembangan manusia dan lingkunganya. Oleh karena itu wajarlah jika Al-Qur’an memberikan dorongan terhadap usaha penelitian ilmiyah di bidang hukum, sebagaimana yang telah dibentangkan dalam uraian yang lalu.

Dorongan terhadap penelitian ilmiyah di bidang hukum ini, membuktikan betapa bijaksananya Al-Qur’an dalam memberikan petunjuk untuk mencapai kebahagiaan hidup dan kehidupan manusia. sejauh mana kebijaksanaan Al-Qur’an tersebut, hanya hikmah Ilahyah saja yang mampu memahami, namun dari sementara analisa yang dilakukan, telah memberi petunjuk bahwa kebijaksanaan Al-Qur’an memberi dorongan terhadap usaha penelitian ilmiyah di bidang hukum ini dapat dilihat dari uraian berikut,

1, Landasan berfikir tentang hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an

sejauh analisa yang dilakukan Abdul Wahab Khallat maka hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an dapat dibedakan kedalam tiga kelompok.

Pertama           : Hukum yang bersangkut paut dengan soal I’tiqad.

Kedua             : Hukum yang bersangkut paut dengan soal moral.

Ketiga             : Hukum yang bersangkut paut dengan soal amaly.

Untuk yang terakhir ini dibedakan menjadi hukum ibadat dan hukum muamalat[62].

Sekalipun dibedakan seperti tersebut di atas, namun kenyataanya jika tersebut “ayat hukum” maka yang dimaksud adalah ayat yang mengandung norma hukum yang bersifat amaly.

Tinjauan terhadap ayat-ayat ahkam dari segi proses turunya maka dapat dikatakan bahwa ayat-ayat itu turun pada periodisasi madany. Tentang moment turunya ayat-ayat ahkam pada periodesasi madany ini Rasyyidi mengemukakan bahwa “ayat hukum itu ditetapkan sesudah mendalamnya keyakinan akan adanya Tuhan”[63].

Memang, ayat-ayat yang turun pada periodisasi Makky terutama ditujukan untuk membentuk jiwa yang bertauhid dan pribadi yang bermoral.

Selanjutnya Rasyidi mengemukakan konsepsinya bahwa agama Islam itu untuk dunia dan akhirat dan harus mendirikan Negara. Ayat-ayat ketata negaraan itu baru diturunkan pada waktu yang tepat, waktu orang memerlukan untuk mengatur Negara[64].

Sementara itu jumlah ayat Al-Qur’an secara keseluruhan adalah 6236 ayat. Sedang ayat-ayat hukum hanya sekitar 5,8 persent dari jumlah keseluruhan ayat Al-Qur’an itu, jadi jumnlahnya sedikit sekali. Sejauh angka yang dikemukakan oleh Syalabi, ayat-ayat hukum tersebut tidak lebih dari 330 ayat dengan perincian sebagai berikut :

Mengenai soal-soal ibadat sebanyak 140 ayat, mengenai urusan kelaurga (nikah, talak, warisan, wasiat dan penyetopan hak untuk sementara) sebanyak 70 ayat, mengenai soal jual beli, gadai, sewa menyewa, pengkongsian, perniagaan dan hutang piutang sebanyak 70 ayat, mengenai hukuman dan pidana sebanyak 30 ayat, mengenai qodlo dan persaksian sebanyak 20 ayat[65].

Sementara itu menurut analisa Harun Nasution, Abdul Wahab Khollaf mengemukakan bahwa ayat0ayat ahkam berjumlah 368 ayat. Ayat –ayat tersebut adalah sebagai berikut :

Mengenai ibdat shalat, puasa, haji, zakat dan lain-lain 140 ayat, mengenai hidup keluaragaan, perkawinan, perceraian, hak waris dan sebagainya sebanyak 70 ayat, mengenai perdagangan / perekonomian, jual beli, sewa menyewa, pinjam meminjam, gadai, perseroan, kontrak dan sebagainya 70 ayat, mengenai soal kriminil 30 ayat, mengenai hubungan Islam dengan bukan Islam 25 ayat, mengenai soal pengadilan 13 ayat, mengenai hubungan kaya dan miskin 10 ayat, dan mengenai soal kenegaraan sebanyak 10 ayat[66].

Perbedaan antara Syalabi dengan Abdul Wahab Kholaf dalam menentukan jumlah ayat ahkam tersebut, bertitik tolak dari perbedaan tinjauan terhadap suatu ayat apakah termasuk ayat ahkam atau tidak.

Terhadap perbedaan penentuan ayat-ayat ahkam, Ahmad Amin mengemukakan bahwa ada ayat yang dianggap ayat ahkam tetapi oleh semnetara ahli fiqih tidak dimasukkan kedalamnya. Pemasukan ayat-ayatnya sperti itu kedalam golongan ayat ahkam hanya karena keinginan yang sangat untuk mengambil hukum, tetapi hakikatnya ayat itu tidak cocok[67].

Menurut Ahmad Amin sendiri, jumlah ayat ahkan hanya sekitar 200 ayat saja[68].

Apa yang dikemukakan Prof. Dr. Ahmad Amin bahwa sebab-sebab utama perbedaan penentuan ayat-ayat ahkam adalah karena keinginan mengambil hukum, yang pada hakikatnya ayat itu tidak cocok, tidaklah dapat diterima. Masalahnya bukan karena tidak cocok, tetapi titik tolaknya adalah bahwa kemampan mengambil hukum dari suatu ayat bai setiap orang berbeda-beda. Bagi orang yang mampu memahami suatu ayat tidak hanya dari yang tersurat tetapi bahkan dari apa yang terirat maka akan berbeda dengan hanya mampu memahami dari yang tersurat saja. Konsekwensinya, mereka berbeda dalam menentukan suatu ayat kedalam kelompok ayat-ayat ahkam.

Tentang jumlah ayat ahakam dalam Al-Qur’an, sekalipun para ulama berbeda pendapat, tetapi dapat disepakati bahwa jumlah ayat ahkan dalam Al-Qur’an sangat minim sekali. Dari kenyataan ini, maka dapat dikemuikakan bahwa keminiman jumlah ayat-ayat ahkam tersebut adalah merupakan latar belakang mengapa Al-Qur’an memberikan motivasi terhadap usaha penelitian ilmiyah di bidang hukum. Apa lagi jika dilihat bahwa ayat-ayat tersebut bukan merupakan undang-undang, tetapi hanya memberikan norma-norma saja, maka sudah barang tentu usaha penelitian ilmiyah di bidang hukum agar terlaksana suatu hukum yang sesuai dengan norma-norma dalam Al-Qur’an adalah merupakan suatu keharusan mutlak. Usaha penelitian ilmiyah dalam bidang hukum tersebut terutama menyangkut hukum yang mengatur hubungan antar sesame manusia.

Sementara itu jika dilihat dari segi kandungan ayat-ayat ahkam tersebut maka dapat dikemukakan bahwa Al-Qur’an mengemukakan hukum-hukumnya ini adakalanya secara tafsisli (terprinci), adakalanya secara menetapkan prinsip-prinsip umum, qaidah-qaidah kulliyah dan menandaskan maksud-maksudnya dalam mensyaratkan hukum. Dalam hal-hal yang harus berjalan tetap sepanjang masa untuk segala ummat, Al-Qur’an menetapkan hukum-hukumnya secara terperinsi. Hukum ibadah masuk golongan ini”[69].

Dalam hal-hal yang tidak harus berjalan tetap sepanjang masa, maka dalam hal nilah terutama usaha penelitian ilmiyah ditujukan.

Dari kenyataan bahwa ayat-ayat ahkam disamping bersifat tafsili terdapat pula ayat mujmal, maka inilah salah satu diantara latar belakangan mengapa Al-QUr’an memberikan dorongan terhadap usaha penelitian ilmiyah di bidang hukum.

Salah satu cirri khas pembentukan hukum dalam Al-Qur’an sebagaimana yang dikemukakan Anwar Harjono akan memperjelas uraian diatas. Anwar Harjono mengemukakan bahwa ayat –ayat Al-Qur’an lebih cenderung untuk memberi patokan-patokan umum dari pada memasuki persoalan sampai kepada detail-detailnya.

Dalam bidang hukum memang ayat-ayat Al-Qur’an demikian Harjono tidak pernah cenderung memasuki soal-soal detail. Dengan cara demikian ayat-ayat Al-Qur’an sebagai petunjuk yang universal dapat dimengerti dan diterima oleh ummat manapun juga di dunia ini tanpa harus diikat oleh tempat tertentu atau waktu tertentu.

Selanjutnya Harjono mengemukakan, tempat dan waktu senantiasa dapat “menyesuaiakn diri” dengan patokan-patokan umum Al-Qur’an itu dan bukan sebaliknya. Usaha menyesuaikan diri itu yang menjadi daerah bergerak bagi para mujtahid hukum, sehingga pengetrapan hukum Islam dapat berjalan dengan sewajarnya ditempat masing-masing sesuai dengan waktu dan keadaanya[70].

Memang sekalipun ayat-ayat hukum sangat minim, namun demikian jangkauanya sangat jauh sekali, tanpa terikat oleh tempat atau waktu tertentu. Misalnya ayat 78 surat Al-Isra’ ;

Artinya : Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelinsir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula sholat) shubuh. Sesungguhnya shalat shubuh itu disaksikan (oleh malaikat)[71].

Memperhatikan ayat ini, diantara kesimpulan yang dapat diambul adalah bahwa kewajiban sholat berlaku kekal selama masih didapati siang dan malam. Oleh karena itu tempat-tempat yang kadang-kadang dalam satu hari tidak terjadi siang karena tak sampainya cahaya matahari di tempat-tempat tersebut, maka kewajiban shalat masih tetap berlaku, karena masih pula terjadi malam hari. Adapun waktu-waktu sholat itu sendiri secara pasti harus diperhitungkan menurut siklus waktu-waktu tempat yang bersnagkutan atau tempat yang terdekat yang waktunya berjalan secara normal.

Dari uraian di atas, nyatalah bahwa keminiman jumlah ayat hukum yang kebanyakan berift global itu mempunyai jangkauan yang sangat jauh. Seperti terlihat dalam contoh yang dikemukakan di atas ; yaitu berlakunya kewajiban sholat di tempat manapun dan dalam waktu kapanpun yang dalan hal ni di tempat-tempat yang seringkali tidak terjadi siang karena tak sampainya cahaya matahari di tempat-tempat tersebut. Demikianlah pula jika diteliti ayat-ayat hukum yang lain, semuanya mempunyai jangkauan yang sangat jauh sekali.

2. Landasan berfikir tentang kemampuan manusia untuk menciptakan hukum yang diisyaratkan Al-Qur’an.

Menurut analisa yang dilakukan oleh Sarjono Soekanto manusia itu sejak dilahirkan sudah mempunyai dua hasrat / keinginan. Dua hasrat atau keinginan tersebut ialah :

  1. keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain yang berada disekelilingnya (yaitu masyarakat).
  2. Keinginan untuk menjadi satu dengan sausana alam sekelilingnya[72].

Pengembangan dari hasrat itu, mendorong manusia untuk hidup bermasyarakat dan saling menggantungkan diri dengan lingkungan alam. Bahkan tentang mansuia sebagai anggota masyarakat ini, Bouman menegaskan bahwa manusia  baru menjadi manusia setelah ia hidup bersama dengan manusia lain.

Jelasnya manusia adalah makhluq[73], social, makhluq yang menurut sifat pembawaanya bermasyarakat, dan hidup bermasyarakat itu menjadi keharusan kemanusiaan. Demikian Subhi Mahmassani menyimpulkan pendapat para ahli kemasyarakatan modern[74].

Selanjutnya ia mengemukakan bahwa kenyataan ini dengan sendirinya memerlukan adanya peraturan-peraturan yang mengahtur hubungan-hubungan diantara anggota-anggota  masyarakat, sebab kehidupan bermasyarakat sudah dengan sendirinya pula menimbulkan hubungan-hubungan, tukar menukar kebutuhan dan bermacam-macam kepentingan. Akibat dari hubungan kepentingan ini menyebabkan timbulnya pertentangan-pertentangan. Keadaan mana semuanya mendorong dan menuntut adanya kaidah-kaidah untuk membatasi hak-hak dan mengatur cara-cara pelaksanananya dari setiap anggota masyarakat dalam hubungan antara satu denan lainya, yaitu untuk menghindarkan serta mengatasi pertentangan-pertentangan yang timbul karena pemenuhan hak-hak itu[75].

Untuk mkaidah-kaidah yang dibutuhkan dalam hidup bermasyarakat itu, manusia dibekali dengan akal fakir serta agama.

Menurut teori klasik atau rationalisme, manusia adalah makhluq akali (rational)[76].

Sementara itu menurut tinjauan yang didasarkan pada kepercayaan agama di peroleh suatu penjelasan bahwa manusia adalah kholifah di bumi ini, sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut :

Artinya : “ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : “sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Kholifah di muka bumi”[77].

Manusia yang berperan sebagai kholifah, sebagai penguasa di bumi ini, dibekali dengan pikiran yang luas. Hal ini ditegaskan dalam ayat berikutnya :

Artinya : “Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya kemudian mengemukakanya kepada pra Malaikat lalu berfirman :”sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memamng orang-orang yang benar!”. Mereka menjawab : “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami ; sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman : Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benada ini” Maka setelah diberitahuanya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman : “Bukanlah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.”[78].

Tentang ayat-ayat ini, Iqbal menulis : Pokok dari pada ayat-ayat itu ialah bahwa manusa telah dianugerahi dengan kecerdasan fikiran untuk menyebutkan nama-nama benda, artinya untuk menyusun pengertian-pengertian tentang benda-benda itu. Jadi sifat pengetahuan manusia ialah konsepsional, dan dengan bersenjatakan pengetahuan konsepsional inilah manusia berkenalan dengan kebenaran yang dapat diselidiki[79].

Dalam kaitanya dengan hidup bermasyarakat, manusia dengan akal fikiranya, dipandang mampu untuk mewujudkan kaidah-kaidah yang diperlukan dalam mengatur kehidupanya, hanya saja kemampuan tersebut tidak selamanya menghasilkan kaidah-kaidah yang benar. Hal ini disebabkan adanya pengaruh yang beraneka ragam, baik yang bersumber dari diri manusia sendiri seperti emosi hawa nafsu dan lain sebagainya, maupun yang bersumber daril uar seperti salahnya methode yang digunakan dalam mewujudkan kaidah-kaidah tersebut. Oleh karena itu sekalipun pada dasarnya manusia dipandang mampu untuk mewujudkan kaidah-kaidah yang diperlukan dalam kaitanya dengan hidup bermasyarakat namun oleh Allah tidak dilepas bebas. Sebaliknya Allah memberikan anugerah agama sebagai petunjuk. Dalam hal ini Al-Qur’an yang diturunkan sebagai petunjuk disamping sebagai mu’jizat kerasulan Muhammad Saw., dalam hubunganya dengan keharusan manusia  untuk menciptakan kaidah-kaidah tersebut, telah memberikan norma-norma dasar sebagai suatu isyarat bertindak lebih lanjut. Misalnya Firman Allah Swt. :

Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”[80].

Dalam hal ini Al-Qur’an memberikan norma-norma dasar kepada manusia dalam hubungan antar sesame, termasuk juga hubungan antar bangsa (Internasional).

Norma-norma tersebut ialah :

Pertama : Bahwa manusia dijadikan oleh Tuhan dengan golongan-golongan. Dan bergolongan-golongnya ummat manusia itu adalah suapaya mereka saling kenal-mengenal sesamanya; jadi bukan untuk hina-menghina, bukan untuk bermusuhan, saling menjajah, tetapi untuk kenal-mengenal. Untuk mengenal bahwa pada suatu bangsa ada kelebihan-kelebihan, pada bangsa lain terdapat kekuaranan-kekurangan. Bangsa yang memiliki kelebihan-kelebihan, menyalurkan kelebihanya kepada bangsa lain yang kekuarangan. Sehingga dengan demikian terwujudlah keselarasan kemajuan ummat manusia di dunia ini.

Kedua : Bahwa segala yang diperbuat oleh suatu golongan tidak lepas dari pengawasan dan penilaian TUhan. Hal ini bearti TUhan akan memberi pahala atas segala yang jahat. Oleh karena itu hubungan antar bangsa terdapat tidak hanya harus dititik beratkan pada keadaan saling menguntungkan dari segi duniawiyah saja, tetapi juga saling menguntungkan dari segi ukhrawiyah.

Demikianlah norma-norma yang diberikan Al-Qur’an untuk mengatur hubungan antar manusia dan antar bangsa. Untuk selanjutnya kepada mansuia sebagai penguasa di muka bumi ini yang dibekali dengan akal fikiranya, diserahkan sepenuhnya untuk menciptakan hukum Internasional berdasar norma-norma tersebut.

Dari uraian yang telah dibentangkan, nyatalah bahwa Al-Qur’an menganggap manusia mampu untuk bertindak lebih lanjut dalm usaha menciptakan hukum selaras dengan norma-noram yang diberikan oleh Al-Qur’an. Inilah antara lain latar belakang mengapaAl-Qur’an memberikan motivasi terhadap usaha penelitian ilmiyah dibidang hukum.

Bahkan diantara keindahan-keindahan hukum Islam adalah menghargai kemerdekaan berfikir, kecerdasanb akal par amujtahid dalam bidang-bidang yang boleh berlaku ijtihad[81].

Penghargaan tersebut tidak bisa diwujudkan tanpa adanya suatu anggapan dasar bahwa manusia mampu mencipatkan hukum yang diisyaratkan oleh Al-Qur’an. Dari anggapan yang demikian inilah, kemudian kepada manusia diserahkan untuk mengatur sebagian kebutuhanya di bidang hukum sehubungan dengan hidup bermasyarakat.

3. LAndasan berfikir tentang pengaruh perubahan dan kemajuan zaman di bidang hukum

Adalah merupakan suatu kenyataan bahwa keadaan ummat manusia, adapt kebiasaan dan peradabanya senantiasa berubah dan berkembang sesuai dengan perubahan dan perkembangan zaman. Dalam hal ini Koentjaraningrat mengemukakan bahwa masyarakat dan kebudayaan manusia adalah salah satu hal dalam alam besar ini, dan masyarakat serta kebudayaan manusia itupun selalu berubah tak putus-putusnya[82].

Perubahan-perubahan itu dapat mengambil beberapa bentuk, sebagaimana dikemukakn oleh Soerjono Soekanto. Ia membedakan perubahan-perubahan itu sebagai berikut :

  1. Perubahan-perubahan yang terjadi secara lambat dan perubahan-perubahan yang terjadi secara cepat.
  2. Perubahan-perubahn yang pengaruhnya kecil dan perubahan-perubahan yang besar pengaruhnya.
  3. Perubahan-perubahan yang dikehendaki (intended change) atau perubahan-perubahan yang direncanakan (planned-change) dan peruabahan-perubahan yang tidak dikehendaki (united change) atau perubahan-perubahan yang tidak direncanakan (un planned change)[83].

Selanjutnya ia mengemukakan factor-faktor yang menyebabkan perubahan-perubahan itu dari dua segi :

Pertama : yang bersumber pada masyarakat yang bersangkutan. Untuk ini ia menyebutkan :

  1. bertambah atau berkurangnya penduduk.
  2. penemuan baru
  3. pertentangan (conflict) dalam masyarakat.
  4. Terjadinya pemberontakan atau revolusi di dalam tubuh masyarakat itu sendiri.

Kedua : yang bersumber dari luar masyarakat yang bersangkutan. Untuk in iia mengemukakan :

  1. Sebab-sebab yang berasal dari lingkungan alam fisik yang ada disekitar manusia.
  2. Peperangan.
  3. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain[84].

Perubahan-perubahan itu sudah barang tentu juga melanda norma-norma yang idup dalam masyarakat.

Bouman mengatakan : yang lebih  penting ialah bahwa hasrat untuk berubah itu juga menghinggapi norma-norma sosoail, yang memang perlu untu memelihara suatu kehiupan bersama[85].

Diantar norma-norma social yang hidup dalam masyarakat, terdapat norma hukum. Hukum sebagai bagian yang penting dalam hidup bermasyarakat sudah barang tentu selalu berubah dan berkembang menurut dinamika social. Lebih –lebih jika diperhatikan masalah pesatnya kemajuan teknologi juga sangat berpengaruh terhad dinamika social, yang sudah barang tentu juga menyangkut masalah hukum .oleh karena itu masalah hukum bukanlah masalah yang statis. Tetapi justru merupakan sesuatu yang senantiasa meminta perhatian yang tersendiri, yang selalu berubah dan berkembang menurut perubahan dan perkembangan zaman. Dalam hal ini dikenal kaidah :

Artinya : “Tidak diinkari bahwa hukum itu berubah karena berubahnya zaman dan tempat”.

Artinya : “Ada tidaknya suatu hukum selaras dengan ada tidaknya illat”.

Dari kaidah-kaidah ini nyatalah bahwa perubahan dan perkembangan zaman serta perbedaan local merupakan factor-faktor yang sangat penting sekali dalam usaha pembentukan hukum,. Dalam hal ini Sobhi Mahmassani menulis :

“ Oleh karena kemaslahatan manusia itu menjadi dasar setiap macam hukum, maka sudah menjadi kelaziman yang masuk akal apabila terjadi perubahan hukum disebabkan karena berubahnya zaman dan keadaan serta pengaruh dari gejala-gejala kemasyarakatan itu”[86].

Adapun orang yang mula-mula melakukan usaha merubah hukum dari ketentuan semula ialah kholifah kedua yaitu Umar bin Kjottob[87].

Untuk selanjutnya berikut ni dikemukakan contoh tentang pengaruh perubahan zaman dan suasan terhadap ketentuan hukum.

  1. Al-Qur’am memerintahkan untuk memotong tangan pencuri baik laki-laki maupun perempuan. Ketika terjadi musim paceklik yang melanda kota Madinah, di masa pemerintahan Umar bin Khottob terjadilah berbagai pencurian untuk menanggulangi kelaparan. Maka Umar tidak menjatuhkan hukuman potong tangan, bahkan meniadakan hukuman.
  2. Al-Qur’an telah menentukan golongan-golongan yang berhak menerima zakat. Diantara gholongan-golongan itu terdapat golongan Muallaf. Ketentuan ini diterapkan Rosulullah, dan Abu Bakar. Tetapi Umar di zaman pemerintahanya tidak memberi zakat kepada golongan Muallaf. Dalam hal ni Umar melihat bahwa keadaan di masa Rasulullah dan Abu Bakar, Islam masih begitu lemah, oleh karena itu perlu diberikan zakat kepada para muallaf, agar tertarik pada Islam. Tetapi zaman Umar sendiri, Islam sudah dipandang kuat. Oleh karena itu, kepada para muallaf tidak perlu diberikan zakat.

Adapun pengaruh perkembangan zaman, terutama yang bersangkut paut dengan kemajuan teknologi dan penemuan-penemuan baru terhadap hukum, menghendaki usaha yang sungguh-sungguh untuk merumuskan ketentuan hukumnya secara pasti. Misalnya tentang status anak hasil inseminasi buatan dalam hukum waris Islam, tentang hukum Bank air susu ibu dan lian sebagainya.

Dari uraian-uraian yang telah dikemukakan, nyatalah bahwa hukum tidaklah statis, tetapi berubah dan berkembang selaras dengan perubahan dan perkembangan zaman dan suasana. Dan inilah salah satu dari latar belakang Al-Qur’an mendorong terhadap usaha penelitian ilmiyah di bidang hukum. Oleh karena itu benarlah apa yang diungkapkan oleh Ahmad Zaki Yamani :

“Bahwa syari’at Islam itu elastis, berkembang dan sanggup menghadapi masalah-masalah sulit yang selalu mengalami perkembangan dan pembaharuan”[88].

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN

A. Kesimpulan

Dari uraian yang telah dikemukakan, disimpulkan sebagai berikut :

  1. Al-Qur’an adalah Kalamullah yang diturunkan kepada NAbi Muhammad dengan perantara malaikat Jibril, menggunkan bahasa Arab, dinukil secara mutawatir, dihukumi beribadah bagi yang membacanya.
  2. Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk ummat sekaligus sebagai mu’jizat kerasulan Muhammad.
  3. Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dengan hikmah :
    1. Therapi kejiwaan secara umum.
    2. Methodus mendidik ummat.
    3. Taktik khusus untuk menempatkan berlakunya hukum-hukum Al-Qur’an.
    4. Penelitian ilmiyah adalah salah satu methode yang bertaraf keilmuan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.
    5. Pentingnya usaha penelitian ilmiyah dapat dilihat dari suatu kenyataan bahwa hal tersebut merupakan saranma untuk menyalurkan hasrat ingin tahu manusia. juga merupakan penyempurnaaan sarana-sarana yang lain. Disamping itu penelitian ilmiyah memiliki tujuan yang sangat positif.
    6. Al-Qur’an senantiasa memberikan dorongan terhadap usaha-usaha penelitian ilmiyah dengan tujuan mengokohkan dan mempertinggi kadar iman.
    7. Dalam bidang hukum, Al-Qur’an memberikan motivasi terhadap usaha penelitian ilmiyah untuk menemukan ketentuan-ketentuan hukum yang selaras dengan norma-norma yang diberikan Al-Qur’an.
    8. Latar belakang motivasi Al-Qur’an terhadap usaha penelitian ilmiyah dibidang hukum adalah sebagai suatu bukti kebijaksanaan Al-Qur’an. Kebijaksanaan tersebut didasarkan atas suatu kenyataan bahwa ayat-ayat yang memuat norma-norma hukum dalam Al-Qur’an jumlahnya terbatas sekali, di samping pada umumnya bersifat global. Kenyataan lain ialah bahwa Al-Qur’an menganggap manusia mampu menciptakan hukum untuk memenuhi sebagian kebutuhan hidupnya di bidang hukum. Di samping itu setiap perubahan dan perkembangan zaman selalu berpengaruh di bidang hukum.

B. Saran-saran

1.  Hendaklah diusahakan menanamkan sikap ilmiyah di kalangan cerdik pandai Islam. Sikap ilmiyah tersebut meliputi pokok-pokok ketentuan sebagai berikut :

a. Jiwa terbuka untuk segala pembahasan dan alas an / pendapat.

b. Rasional.

c. Obyektif.

d.Kritis.

e. Kaya imaginasi

Untuk selanjutnya dari sikap semacam ini diharapkan terwujud berbagai aktifitas penelitian yang bertaraf keilmuan serta dapat mewujudkan pembahasan, pemahaman dan penghayatan terhadap ajaran Islam sesuai dengan kacamata ilmiyah.

2.  Hendaklah pemahaman dan penghayatan terhadap hukum Islam tidak bersifat kaku sedemikian rupa. Tetapi sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip pokok hukum Islam, dapatlah dicari alternative lain yang lebih luwes, sekalipun tampak ada penyimpangan-penyimpangan . karena penyimpangan bukan berarti penyelewengan ; sebaliknya hal itu merupakan suatu sarana mengelastiskan hukum-hukum Islam senada dengan perubahan dan perkembangan zaman.

3.  Usha penulisan yang merupakan syarat akademis bagi yang secara formil masih study di Perguruan TInggi janganlah berhenti setelah memperoleh title kehormatan. Tetapi justru penulisan tersebut hendaklah merupakan batu loncatan untuk penulisan selanjutnya. Dengan demikian, akan memperkaya khaazanah ilmu pengetahuan.

PENUTUP

Sungguhpun bekal yang dimiliki sangat terbatas sekali dalam mewujudkan Risalah ini, terutama sedikitnya kemampuan dan piciknya analisa, namun berkat rahmat Allah Swt juga segalanya dapat diatasi. Maka hanya kepada-Nya, puja dan puji patut dipanjatkan sebagai realisasi rasa syukur yang sedalam-dalamnya atas segala anugerahNya, sehingga risalah yang sederhana ini dapat diselesaikan.

Akhirnya, kepada Allah Swt dipanjatkan do’a dengan penuh ketundukan hati dan jiwa, semoga usaha penulisan ini diterima sebagai amal ibadah kepada-Nya serta memperoleh ridla-Nya. Amien.


[1] Poerwadarminta, WJS, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1976, Cet. V, hlm. 570

[2] Ibid. Poerwadarminta, WJS, Kamus Umum Bahasa Indonesia, hlm. 65

[3] Ibid. Poerwadarminta, WJS, Kamus Umum Bahasa Indonesia, hlm. 32

[4] Ibid. Poerwadarminta, WJS, Kamus Umum Bahasa Indonesia, hlm. 327

[5] Ibid. Poerwadarminta, WJS, Kamus Umum Bahasa Indonesia, hlm. 1136

[6] Ibid. Poerwadarminta, WJS, Kamus Umum Bahasa Indonesia, hlm. 1039

[7] Ibid. Poerwadarminta, WJS, Kamus Umum Bahasa Indonesia, hlm. 373

[8] Ibid. Poerwadarminta, WJS, Kamus Umum Bahasa Indonesia, hlm. 248

[9] Ibid. Poerwadarminta, WJS, Kamus Umum Bahasa Indonesia, hlm. 137

[10] Ibid. Poerwadarminta, WJS, Kamus Umum Bahasa Indonesia, hlm. 363

[11] IAIN Sunan Ampel, Dasa Warsa / Lustrum ke-2, Surabaya, 1975, hlm. 159.

[12] Muhammad Abdul Adhim Az-Zarqani, Manahilul Irfan fi Ulumil QUr’an, Isa al BAbi al Halabi Wa Syirkah, Juz I, cet. III, hlm.14

[13] Prof. Dr. TM. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an / Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, 1972, Cet. V. hlm. 16

[14] Badruddin Muhammad bin Abdillah Al-Zarkasyi, Alburhan fi Ulumil Qur’an, Isa al Babi al-Halby wa syirkah, Juz I, Cet. I, hlm. 278

[15] Ibid. Muhammad Abdul Adzim Az-Zarqani, Manahilul Irfan, hlm. 14

[16] Ibid. Prof. Dr. TM. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an, hlm. 17

[17] Ibid. Muhammad Abdul Adzim Az-Zarqani, Manahilul Irfan, hlm. 14

[18] Ibid. Prof. Dr. TM. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an, hlm. 17

[19] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm. 999, Q.A. 17-18, S.75, Al-Qiyamah.

[20] Ibid. Muhammad Abdul Adzim Az-Zarqani, Manahilul Irfan, hlm. 17

[21] Ibid. Muhammad Abdul Adzim Az-Zarqani, Manahilul Irfan, hlm. 18

[22] Ibid. Muhammad Abdul Adzim Az-Zarqani, Manahilul Irfan, hlm. 19

[23] Ibid. Muhammad Abdul Adzim Az-Zarqani, Manahilul Irfan, hlm. 20

[24] Abdul Wahab Khllaf, Ilmu Ushulil Fiqh, Al Majalisul A’la al Indonesia lid da’watil Islamiyah, Jakarta, 1972, Cet. VII. hlm. 23

[25] Ibid. Prof. Dr. TM. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an, hlm. 16

[26] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm. 8. (QS. 1-2, S.2 Al-Baqarah

[27] Prof. Dr. TM. Hasbi Ash-Shiddieqy, An-Nur, Bulan Bintang, Jakarta, 1976, Cet. Ke III, juz I, hlm. 57

[28] Ibid. Prof. Dr. TM. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an, hlm. 136

[29] Maulana Muhammad Ali, M.A.; Dinul Islam, diterjemahkan oleh : R. Kailan dan HM. Bahrundengan judul : Islamologi, Darul Kutubil Islamiyah, & Ikhtiar Baru, Jakarta, 1977, hlm. 144-145

[30] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm. 168. Surat 5 Ayat 48.

[31] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm. 168. Surat 5 Ayat 48

[32] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm. 411, (QA. 64, S.16, An Nahl)

[33] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm.415, (QS. 89, S.16, An Nahl)

[34] Ibid. Prof. Dr. TM. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an, hlm. 137

[35] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm.12 (QA.23, S.2, Al-Baqarah).

[36] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm.564, (QA. 32, S.25, Al-Furqan)

[37] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm.440, (QA. 105, S.17, Al Isra’)

[38] Ibid. Poerwadarminta, WJS, Kamus Umum Bahasa Indonesia, hlm. 1039

[39] E. Pino & T. Wittermans, Kamus Inggris Indonesia, Pradnya Paramita, Jakarta, 1970, Cet. VII, hlm. 349.

[40] A.A. Harnby, E.V. Gatenby, H. Wakefield, Advanced learn’s Dictionary of Current English, Oxford University Press, London, 1963, Cet.II, hlm.839

[41] Prof. Dr. Winarno Surrachmad, Dasar dan Teknik Research, Tarsito, Bandung, 1975, Edisi lima, Cet.II, hlm. 26

[42] Prof. Dr. Sutrisno Hadi, MA., Methodologi Research, Yayasan Penerbitan Fakultas Psychologi UGM., Yogyakarta. 1977, Cet.VI, hlm. 4

[43] Suprapto, MA., Methode Riset Dan Aplikasinya Didalam Riset Pemasaran, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, Jakarta, 1974. Cet.I, hlm.13

[44] Ibid. Prof. Dr. Winarno Surrachmad, Dasar dan Teknik Research, hlm.11

[45] Ibid. Prof. Dr. Sutrisno Hadi, MA., Methodologi Research,hlm.3

[46] Ibid. J. Suprapto, MA., Methode Riset Dan Aplikasinya Didalam Riset Pemasaran, hlm.13

[47] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm.815. (QA. 5, S.45, Al-Jatsiyah)

[48] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm.429. (QA. 36, S.17, Al-Isra’)

[49] As Sayid Muhammad Rasyid Ridla, Al Wahyu Muhammadiyu, Al Manar, Mesir, 1935, Cet. III, hlm. 213

[50] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm.700. (QA. 28,  S.35, Fathir)

[51] Prof. Dr. Muhammad Ghollab, Hadza Huwal Islam ; (diterjemahkan oleh B. Hamdany Aly, MA, dengan judul : Inilah hakikat Islam), Bulan BIntang, Jakarta, hlm. 62-63.

[52] Ibid. As Sayid Muhammad Rasyid Ridla, Al Wahyu Muhammadiyu, hlm. 215

[53] Syekh Muh.Abduh, Al Islam wan Nashraniyah maal ilmi wal ma daniyah, diterjemahkan oleh : Mahyuddin Syaf & A. Bakar Usman dengan judul : Islam dan Kristen tentang ilmu dan peradaban, Diponegoro, bandung, 1970, hlm. 59-60.

[54] Abdullah Siddik, SH. Islamologi, Tintamas, Jakarta, 1967, hlm. 23.

[55] Drs. Sidi Gazalba, Ilmu dan Islam, Mulia, Jakarta, t.t. hlm. 154.

[56] Muhammad bin Ali bin Muhammad Asyaukani, Irsyadul Fukhul, Musthafa al Baby al Halaby, Mesir, 1937, Cet. I. hlm. 250.

[57] M.Abu Zahrah, Ushul Fiqh, Darul Fikril Araby, 1958. hlm. 379.

[58] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm.128, (QA.59, An-Nisaa’)

[59] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm.408, (QA. 43, S.16, An-Nahl)

[60] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm.915, (QA.32, S.59, Al-Hasyr)

[61] Dr. H. Abdoer Raoef, SH., Al-Qur’an dan Ilmu Hukum, Bulan Bintang, Jakarta 1970. hlm. 25

[62] Ibid. Abdul Wahab Khollaf, hlm. 32

[63] Prof. Dr. HM. Rasyidi, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang “Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, Bulan Bintang, Jakarta 1977, cet. I. hlm. 79.

[64] Ibid. Prof. Dr. HM. Rasyidi, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution,. Hlm. 79

[65] Prof. dr. Ahmad Syalabi, Tarikhut Tasyi’ii Islamy diterjemahkan oleh Abdullah Badjerei, dengan judul “Sejarah pembinaan hukum Islam”, Jaya Murni, Jakarta 1950, hlm. 17.

[66] Dr. Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Bulan BIntang, Jakarta 1974, cet. I, juz II, -hlm. 78.

[67] Prof. Dr. Ahmad Amin, Fajrul Islam (terjemahan oleh Zaini Dahlan MA.), Bulan BIntang, Jakarta 1968, hlm. 294.

[68] Ibid. Prof. Dr. Ahmad Amin, Fajrul Islam. Hlm. 294

[69] Ibid. Prof. Dr. TM. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an, hlm.161

[70] Dr. Anwar Harjono, SH., Hukum Islam Keluasan dan Keadilanya, Bulan Bintang, Jakarta 1968, hlm. 113

[71] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm.436, (QA.78, S.17. Al-Isra’)

[72] Soerjono Soekanto, SH. MA., Sosiologi Suatu Pengantar, Yayasan penerbit Universitas Indonesia, Jakarta 1975, Cet. IV, hlm. 94

[73] Prof. Dr. PJ. Bouman, Algemene Maatschappijteereen eerste inleiding tot sociologie, (diterjemahkan oleh Sujono dengan Judul “Ilmu masyarakat umum, pengantar sosiologi”, Pembangunan , Jakarta 1958, cet. X. hlm. 16

[74] Dr. Sobhi Mahmassani, Falsafatut Tasyri’ fil Islam, diterjemahkan oleh Ahmad Sudjono, SH., dengan judul : Filsafat hukum dalam Islam, Al-Ma’arif, Bandung 1977, cet. I, hlm. 20.

[75] Ibid. Dr. Sobhi Mahmassani, Falsafatut Tasyri’ fil Islam. Hlm. 20

[76] Ibid. Dr. Anwar Harjono, SH., Hukum Islam Keluasan dan Keadilanya, hlm. 28

[77] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm.128, (QA.30,  S.2. Al-Baqarah)

[78] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm.14, (QA.31-32-33, S.2. Al-Baqarah)

[79] Dr. Muhammad Iqbal, The leconstruction of Religious thougt in Islam, diterjemahkan oleh Ali Andah, Taufiq Ismail. Goenawan Muhammad, dengan judul “Membangun Kembali Pemikiran Agama Dalam Islam”, Tinta mas, Jakarta 1966. hl. 15.

[80] Ibid. Departemen Agama RI.; Al-Qur’an dan Terjemahanya, hlm.847, (QA.13, S.49, Al-Hujurat)

[81] Prof. Dr. TM. Hasbi Ash Shiddiqiy, Falsafah Hukum Islam, Bulan Biintang, Jakarta, 1975, Cet. I. hlm. 142.

[82] Prof. Dr. koentjaraningrat, Pengantar Antropologi Aksara, Jakarta, 1969, Cet. III. Hlm. 125

[83] Ibid. Soerjono Soekanto, SH. MA., Sosiologi Suatu Pengantar, hlm. 237-240.

[84] Ibid. Soerjono Soekanto, SH. MA., Sosiologi Suatu Pengantar. Hlm. 243-249

[85] Ibid. Prof. Dr. PJ. Bouman, Algemene Maatschappijteereen eerste, hlm. 92

[86] Ibid. Dr. Sobhi Mahmassani, Falsafatut Tasyri’ fil Islam, hlm. 160.

[87] Ahmad Zaki Yamani MCJ, LIM., Asy Syari’atu Kholidah wa musykilatul ‘Ashari, diterjemahkan oleh Mahyuddin Syaf, dengan judul : Syari’at Islam yang abadi menjawab tantangan zaman, Al Ma’arif Bandung, 1974, Cet. I. hlm. 19

[88] Ibid. Ahmad Zaki Yamani MCJ, LIM., Asy Syari’atu Kholidah wa Musykilatul ‘Ashari, hlm. 12.

This entry was posted in Islam and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to LATAR BELAKANG MOTIVASI AL-QUR’AN TERHADAP USAHA PENELITIAN ILMIAH DI BIDANG HUKUM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s