Pria Penganggur Ditinggal Perempuan?


Selasa, 7/9/2010 | 13:42 WIB

KOMPAS.com — Lelaki mendapatkan peran sosial sebagai penanggung jawab yang lebih sering diposisikan sebagai pemberi daripada penerima. Konstruksi sosial ini sudah membudaya dan diterima masyarakat di beberapa belahan dunia. Alhasil, lelaki harus bekerja dan berpenghasilan. Jika tidak, mana ada perempuan yang bersedia menjadi pasangannya? Apakah perspektif ini juga berlaku dalam kamus personal Anda?

Komunitas situs kencan online Zoosk menyatakan dalam surveinya bahwa 60 persen perempuan mengencani lelaki tanpa pekerjaan. Jumlah ini naik 52 persen dibandingkan tahun 2009. Sedangkan 90 persen lelaki yang disurvei menyatakan mengencani perempuan yang tak bekerja. Sebaliknya, jumlah ini turun dibandingkan survei pada tahun 2009.

Nyatanya, masih banyak perempuan yang mempertahankan hubungan cintanya meski tahu si lelaki tak sanggup membiayai hidupnya. Dari survei yang sama, juga ditunjukkan, 83 persen lelaki mengatakan, status pengangguran sebaiknya diberitahukan kepada pasangan. Jumlah ini masih sedikit dibandingkan pengakuan perempuan yang ingin lebih terbuka dalam hubungan meski harus mengetahui pasangannya tidak bekerja. Sebanyak 93 persen perempuan menginginkan pasangannya terbuka tentang statusnya sebagai pengangguran.

Cinta masih saja membutakan rupanya. Status pekerjaan tak lantas membuat pria ditinggalkan perempuan. Meski persepsi tentang pengangguran masih dinilai negatif dan berdampak buruk pada hubungan seperti berikut ini:

Konotasi negatif yang melekat pada lelaki penganggur

Orang yang bekerja diasosiasikan sebagai sosok yang cerdas dan rajin penuh motivasi. Jangan salah, banyak juga penganggur yang cerdas. Tak sedikit juga orang yang punya pekerjaan, tetapi pemalas. Jadi, stereotip ini tidak bisa dijadikan patokan karena persoalannya bukan terletak pada urusan kecerdasan atau rajin atau malasnya seseorang.

Bukankah seseorang yang memiliki tujuan, semangat untuk maju, lebih menarik daripada orang yang mandek? Memiliki karier adalah bentuk representasi dari karakter yang penuh motivasi. Inilah yang tidak dimiliki penganggur yang tak juga tergerak mengubah nasibnya. Sebagai perempuan, apakah Anda siap mendapati diri berpasangan dengan pria berkarakter seperti ini? Bagaimana orang lain mempresepsikan dirinya dengan konotasi negatif?

Tidak mandiri
Siapa pun yang tidak berpenghasilan sama dengan tidak memiliki kemandirian. Artinya, ia masih disubsidi untuk memenuhi kebutuhannya. Lantas, apakah hal ini tidak memengaruhi hubungan?

Lelaki yang berupaya keras untuk bekerja memiliki kemandirian sekaligus juga memiliki kemampuan menyenangkan pasangannya. Setidaknya ia mampu membayarkan makan malam atau sekadar memberikan hadiah kecil saat ulang tahun pasangannya.

Rasa bersalah akan muncul pada diri pria ketika tak mampu mengajak pasangan keluar dan bersenang-senang karena tak punya cukup uang. Emosi negatif seperti ini bisa menimbulkan masalah dalam hubungan.

Minder
Sekali lagi, status bekerja pada lelaki melekat sebagai peran yang harus dimiliki kaum adam. Anda boleh saja tak mengacuhkan persepsi kebanyakan orang tentang peran lelaki ini, tetapi sanggupkah Anda menjawab pertanyaan dari keluarga atau bahkan teman tentang status pasangan?

Jika tiga persepsi ini masih dikenal di masyarakat, lantas mengapa perempuan pada survei tahun 2010 dari Zoosk masih menunjukkan ketertarikannya kepada lelaki penganggur?

Alasan utamanya, perempuan mendambakan perhatian yang hanya bisa didapatkan dari lelaki yang tak sibuk dengan pekerjaannya. Selain juga perempuan menoleransi keadaan, di mana sulitnya mendapat pekerjaan di tengah krisis ekonomi dunia. Sedangkan perempuan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dari pria.

Di sisi lain, zaman sudah mulai berubah. Banyak perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga dan lelaki menjadi raja di rumah tangga. Jika siap menjalani gaya hidup seperti ini, rasanya tak jadi soal jika suami berpenghasilan lebih rendah daripada istri nantinya.

Di mata seorang pria, Rich Santos, penulis Marie Claire, perempuan yang bekerja lebih berkesan seksi. Mereka dinilai penuh semangat dan selalu bergairah mengejar kesempatan dalam mengembangkan kariernya. Namun, bukan perempuan yang mengeluh dengan pekerjaannya, tetapi lebih kepada perempuan yang bekerja dengan sepenuh hati dan menyenangi dunianya. Bidang pekerjaan yang identik dengan dunia lelaki pun kini dimasuki perempuan, termasuk dunia bisnis dan keuangan.

Jadi, perempuan memang punya potensi dan semangat untuk berkembang. Bukan berarti lelaki tak punya karakter yang sama. Banyak kondisi yang menciptakan status pengangguran, yang bisa terjadi pada perempuan dan lelaki. Pilihannya ada di tangan Anda, bersediakah menjalani kehidupan berpasangan dengan adanya kesenjangan penghasilan?

Anda punya alasan kuat mengapa masih bertahan dengan lelaki yang tak punya pekerjaan tetap atau bahkan tak memiliki sumber penghasilan?
WAF

Editor: Josephus Primus

Sumber: Shine

This entry was posted in Tips&Trik and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s