Self-Disclosure (Pengungkapan Diri)


Dalam melakukan interaksi antara individu dengan orang lain, apakah orang lain akan menerima atau menolak, bagaimana seseorang ingin orang lain mengetahui tentang dirinya, itu semua ditentukan oleh bagaimana individu dalam mengungkapkan dirinya.

Wrightsman, 1987 (dalam Dayakisni, 2001: 47) menjelaskan bahwa pengungkapan diri (self-disclosure) adalah proses pengungkapan diri yang diwujudkan dengan berbagi perasaan dan informasi kepada orang lain. Sedangkan Morton, 1978 (dalam Sears 1989: 254) mendefinisikan pengungkapan diri sebagai kegiatan membagi perasaan dan informasi yang akrab dengan orang lain

Informasi dalam pengungkapan diri bersifat deskriptif dan evaluatif. Deskriptif artinya individu melukiskan berbagai fakta mengenai diri sendiri yang mungkin untuk diketahui oleh orang lain, misalnya seperti pekerjaan, alamat dan usia. Sedangkan evaluatif artinya individu mengemukakan pendapat atau perasaan pribadinya lebih mendalam kepada orang lain, misalnya seperti tipe orang yang disukai, hal-hal yang disukai maupun hal-hal yang tidak disukai.

Kedalaman dalam pengungkapan diri tergantung pada situasi dan orang yang diajak untuk berinteraksi. Situasi yang menyenangkan dan perasaan aman dapat membangkitkan seseorang untuk lebih mudah membuka diri. Selain itu adanya rasa percaya dan timbal balik dari lawan bicara menjadikan seseorang cenderung memberikan reaksi yang sepadan (Raven dan Rubin dalam Dayakisni, 2001: 48).

Menurut Russell dkk (dalam journal of counseling psychology, 2005) “Self-disclosure refers to individual’s the verbal communication of personality relevant information, thoughts, and feelings in order to let themselves be know to another”. Artinya adalah bahwa self disclosure merupakan komunikasi verbal yang dilakukan seseorang mengenai informasi kepribadian yang relevan, pikiran dan perasaan yang disampaikan, agar orang lain mengetahui tentang dirinya.

Devito (1997: 62) berpendapat bahwa pengungkapan diri ialah membagikan informasi pribadi meliputi pikiran, perasaan, pendapat pribadi dan juga informasi yang disembunyikan pada orang lain. Brehm (2002: 137) menyatakan bahwa ”self-disclosure adalah pengungkapan informasi yang bersifat pribadi kepada orang lain”.

Menurut Papu (2002) pengungkapan diri dapat diartikan sebagai pemberian informasi tentang diri sendiri kepada orang lain. Informasi yang diberikan mencakup berbagi hal seperti pengalaman hidup, perasaan, emosi, pendapat, cita-cita dan sebagainya (www.e-psikologi.com). Pengungkapan diri haruslah dengan kejujuran dan keterbukaan bukan hanya menampilkan kebaikan-kebaikan saja seperti tuntutan norma yang ada. Pengungkapan diri dapat berupa tentang berbagai informasi seperti perasaan, sikap, perilaku, keinginan, motivasi dan ide.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud selfdisclosure adalah kegiatan membagi informasi tentang pikiran dan perasaan kepada orang lain yang bersifat pribadi, baik pikiran dan perasaan positif maupun pikiran dan perasaan negatif. Kegiatan membagi informasi tentang dan perasaan ini disampaikan dengan komunikasi verbal.

This entry was posted in Psikologi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s