Aspek-aspek kecerdasan ruhaniah (Islam)


a.   Shiddiq

Salah satu dimensi kecerdasan ruhaniah terletak pada nilai kejujuran yang merupakan mahkota kepribadian orang-orang mulia yang telah dijanjikan Allah akan memperoleh limpahan nikmat dari-Nya. Seseorang yang cerdas secara ruhaniah, senantiasa memotivasi dirinya dan berada dalam lingkungan orang-orang yang memberikan makna kejujuran, sebagai mana firman-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yangbenar( jujur)”. (At-Taubah:119)

Shiddiq adalah orang benar dalam semua kata, perbuatan, dan keadaan batinya. Hati nuraninya menjadi bagian dari kekuatan dirinya karena dia sadar bahwa segala hal yang akan mengganggu ketentraman jiwanya merupakan dosa. Dengan demikian, kejujuran bukan datang dari luar, tetapi ia adalah bisikan dari qalbu yang secara terus menerus mengetuk-ngetuk dan memberikan percikan cahaya Ilahi. Ia merupakan bisikan moral luhur yang didorong dari hati menuju kepada Ilahi (mahabbah lilllah). Kejujuran bukan sebuah keterpaksaan, melainkan sebuah pangilan dari dalam (calling from withim) dan sebuah keterikatan (commitment, aqad, i’tiqad).

Perilaku yang jujur adalah prilaku yang diikuti dengan sikap tanggung jawab atas apa yang diperbuatnya, karena dia tidak pernah berfikir untuk melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, sebap sikap tidak bertanggung jawab merupakan pelecehan paling azasi terhadap orang lain, serta sekaligus penghinaan terhadap dirinya sendiri. Kejujuran dan rasa tanggung jawab yang memancar dari qalbu, merupakan sikap sejati manusia yang bersifat universal, sehingga harus menjadi keyakinan dan jati diri serta sikapnya yang paling otentik, asli, dan tidak bermuatan kepentingan lain, kecuali ingin memberikan keluhuran makna hidup. Dalam usaha untuk mencapai sifat Shiddiq seseorang harus melalui beberapa hal diantranya adalah :

  • Jujur pada diri sendiri

Salah satu contoh jujur pada diri sendiri adalah pada saat seseorang melakukan sholat, begitu taat dan bersungguh-sungguh untuk mengikuti seluruh proses sejak dari takbir sampai salam, sholat ritual telah melahirkan nuansa kejujuran dan melaksanakan seluruh kewajiban dengan penuh tanggung jawab, bagi orang-orang yang shiddiq, esensi sholat tidak berhenti sampai ucapan assalamu’alaikum, tetapi justru ucapan itu merupakan awal bagi dirinya untuk membuktikan hasil sholatnya dalam kehidupan secara aktual dan penuh makna manfaat.

  • Jujur pada orang lain

Sikap jujur pada orang lain berarti sanggat prihatin melihat penderitaan yang dialami oleh mereka. Sehingga, seseorang yang shiddiq mempunyai sikap dan mempunyai jiwa pelayanan yang prima (sense of steweardship). Maka, tidak mungkin seseorang merasa gelisa berada bersama-sama dengan kaum shiddiqiin karena mereka adalah sebaik-baiknya teman yang penyantun dan penyayang serta direkomendasikan Allah. Tidak mungkin para shiddiqiin itu akan mencelakakan orang lain karena didalam jiwanya hanya ada kepedulian yang amat sanggat untuk memberikan kebaikan.

  • Jujur terhadap Allah

Jujur terhadap Allah berarti berbuat dan memberikan segala-galanya atau beribadah hanya untuk Allah, hal ini sebagaimana didalam doa iftitah, seluruh umat islam  menyatakan ikrarnya bahwa sesungguhnya sholat, pengorbanan, hidup, dan mati mereka hanya diabadikan kepada Allah Yang Mahamulia, penyataan ini merupakan komitmen yang secara terus-menerus harus diperjuangkannya agar tidak keluar atau menyimpang dari arah yang sebenarnya. Itulah sebapnya didalam Al-Qur’an banyak ditemukan kata shirath, syai’ah, thariqah, sabil, dan minhaj, yang semuanya memberikan makna dasar” jalan “.

  • Menyebarkan salam

Salam tidak hanya memberikan pengertian selamat, tetapi mempunyai kandungan bebas dari segala ketergantungan dan tekanan, sehingga hidupnya terasa damai, tenteram dan selamat, karena itu setiap muslim akan mengucapkan salam setiap akhir sholat, seakan-akan mereka ingin membuktikan bahwa hasil audensinya dengan Allah akan dinyatakannyan  secara nyata dan aktual dalam kehidupnya, yaitu ikut berpartisipasi dari dirnya sendiri merupakan bagian dari salam tersebut.

Dengan demikian, makna salam merupakan benag merah dan indentitas paling monumental yang menjadi misi dan hiasan kepribadian serta sikap dan prilaku seorang muslim.

b.   Istiqamah

Istiqamah diterjemahkan sebagai bentuk kualitas batin yang melahirkan sikap konsisten (taat azas) dan teguh pendirian untuk menegakkan dan membentuk sesuatu menuju pada kesempurnaan atau kondisi yang lebih baik, sebagai mana kata taqwin merujuk pula pada bentuk yang sempurna(qiwam).

“Maka, tetaplah (istiqamalah) kamu dalam jalan yang benar, sebagai mana diperinyahkan kepadamu.” (Huud: 112)

Abu Ali ad-Daqqaq (Tasmara, 2001) berkata ada tiga derajat pengertian istiqamah, yaitu menegakkan atau membentuk sesuatu (taqwim), menyehatkan dan meluruskan (iqamah), dan berlaku lurus (istiqamah), takwim menyangkut disiplin jiwa, Iqamah berkaitan dengan penyempurnaan, dan istiqamah berhubungan dengan tindakan pendekatan diri kepada Allah.

Sikap istiqamah menunjukkan kekuatan iman yang merasuki seluruh jiwanya, sehingga dia tidak mudah goncang atau cepat menyerah pada tantangan atau tekanan, mereka yang memiliki jiwa istiqamah itu adalah tipe manusia yang merasakan ketenanggan luar biasa (iman, aman, muthmainah) walau penampakannya diluar bagai orang yang gelisah. Dia merasa tenteram karena apa yang dia lakukan merupakan rangkaian ibadah sebagai bukti “yakin” kepada Allah Swt.dan Rasul-Nya.  Sikap istiqamah ini dapat terlihat pada orang-orang :

1.)    Mempunyai Tujuan

Sikap istiqamah hanya mungkin merasuki jiwa seseorang bila mereka mempunyai tujuan atau ada sesuatu yang ingin dicapai. Mereka mempunyai visi yang jelas dan dihayatinya sebagai penuh kebermaknaan, mereka pun sadar bahwa pencapaian tujuan tidaklah datang begitu saja, melainkan harus diperjuangkan dengan penuh dengan kesabaran, kebijakan, kewaspadaan, dan perbuatan yang memberikan kebaikan semata.

2.)    Kreatif

Orang yang memilki sifat istiqamah akan tampak dari kretivitasnya, yaitu kemampuan untuk mengahasilkan sesuatu melalui gagasan-gagasannya yang segar, mereka mampu melakukan deteksi dini terhadap permasalahan yang dihadapinya, haus akan imformasi, dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar (curiousity) serta tidak takut pada kegagalan.

3.)    Menghargai Waktu

Waktu adalah aset Ilahiyah yang paling berharga, bahkan merupakan kehidupan itu yang tidak dapat disia-siakan, Sungguh benar apa yang difirmankan Allah agar kita memperhatikan waktu (‘ashar). Rasulullah saw. Bersabda, “Jangan mencerca waktu karena Allah pemilik waktu.” (HR Ahmad).

Disamping menunjukkan waktu ketika matahari telah melampaui pertengahan atau menuju ke magrib, kata ashar berasal dari kata ashara yang artinya memeras sesuatu sehingga tidak lagi ada yang tersisa dari benda yang diperas tersebut’, Hal ini sebagai mana terdapat dalam surah Yusuf ayat 36 dan 49.

4.)    Sabar

Sabar merupakan suasana baitn yang tetap tabah, istiqamah pada awal dan akhir ketika menghadapi tantangan, dan mengemban tugas dengan hati yang tabah dan optimis, sehingga dalam jiwa orang yang sabar tersebut terkandung beberapa hal yang diantaranya sebagai berikut, menerima dan menghadapi tantangan dengan tetap konsisten dan berpengharapan, berkeyakinan Allah tidak akan memberikan beban diluar kemampuanya. Mereka tetap mengendalikan dirinya dan mampu melihat sesuatu dalam perspektif yang luas, tidak hanya melihat apa yang tampak, tetapi melihat sesuatu dalam kaitanya dengan yang lain.

c. Fathanah

Fathanah diartikan sebagai kemahiran, atau penguasaan terhadap bidang tertentu, pada hal makna fathanah merujuk pada dimensi mental yang sanggat mendasar dan menyeluruh. Seorang yang memilki sikap fathanah, tidak hanya menguasai bidangnya saja begitu juga dengan bidang-bidang yang lain, Keputusan-keputusanya menunjukkan warna kemahiran seorang profesional yang didasarkan pada sikap moral atau akhlak yang luhur, memilki kebijaksanaan, atau kearifan dalam berpikir dan bertindak.

d.   Amanah

Amanah menjadi salah satu dari aspek dari ruhaniah bagi kehidupan manusia, seperti halnya agama dan amanah yang dipikulkan Allah menjadi titik awal dalam perjalanan manusia menuju sebuah janji. Janji untuk dipertemukan dengan Allah SWT, dalam hal ini manusia dipertemukan dengan dua dinding yang harus dihadapi secara sama dan seimbang antara dinding jama’ah didunia dan dinding kewajiban insan diakhirat nanti. Sebagai mahluk yang paling sempurna dari  ciptaan Allah SWT  dibandingkan dengan mahluk yang lain, maka  amanah salah satu sifat yang dimilki oleh manusia sebagai khalifah dimuka bumi.

Didalam nilai diri yang amanah itu ada beberapa nilai yang melekat :

1). Rasa  ingin menunjukkan hasil yang optimal.

2). Mereka merasakan bahwa hidupnya memiliki nilai, ada sesuatu yang penting. Mereka merasa dikejar dan mengejar sesuatu agar dapat menyelesaikan amanahnya dengan sebaik-baiknya.

3). Hidup adalah sebuah proses untuk saling mempercayai dan dipercayai.

e. Tabligh

Fitrah manusia sejak kelahiranya adalah kebutuhan dirinya kepada orang lain. Kita tidak mungkin dapat berkembang dan survive kecuali ada kehadiran orang lain. Seorang muslim tidak mungkin bersikap selfish, egois, atau annaniyah’ hanya mementingkan dirinya sendiri’. Bahkan tidak mungkin mensucikan dirinya tanpa berupaya untuk menyucikan orang lain. Kehadirannya di tengah-tengah pergaulan harus memberikan makna bagi orang lain bagaikan pelita yang berbinar memberi cahaya terang bagi mereka yang kegelapan.

Mereka yang memilki sifat tabligh mampu membaca suasana hati orang lain dan berbicara dengan kerangka pengalaman serta lebih banyak belajar dari pengalaman dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup.

Berdasarkan kelima aspek-aspek kecerdasan ruhaniah dari Tasmara (2001) maka peneliti dapat membuat kesimpulan, bahwa kecerdasan ruhaniah adalah kemampuan atau kapasistas seseorang untuk pengunaan nilai-nilai agama baik dalam berhubungan secara vertikal atau hubungan dengan Allah Swt (Hab lum minallah) dan hubungan secara horizontal atau hubungan sesama manusia (Hab lim min’nan nas) yang dapat dijadikan pedoman suatu perbuatan yang bertangung jawab didunia maupun diakhirat. Dengan arti kata lain kecerdasan spritual dimana kondisi seseorang yang telah dapat mendengar suara hati, karena pada dasarnya suara hati manusia masih bersifat universal, tapi apa bila seseorang  telah mampu memunculkan beberapa  sifat-sifat dari Allah yang telah diberikan-Nya kepada setiap jiwa manusia dalam bentuk yang fitrah dan suci yang disebut dengan asmaul khusna maka akan memunculakan sifat takwa.

This entry was posted in Psikologi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s