Post Power Syndrome


  1. PENGERTIAN

Arti dari “syndrome” itu adalah kumpulan gejala. “Power” adalah kekuasaan. Jadi, terjemahan dari post power syndrome kira-kira adalah gejala-gejala pasca kekuasaan. Gejala ini umumnya terjadi pada orang-orang yang tadinya mempunyai kekuasaan atau menjabat satu jabatan, namun ketika sudah tidak menjabat lagi, seketika itu terlihat gejala-gejala kejiwaan atau emosi yang kurang stabil. Gejala-gejala itu biasanya bersifat negatif, itulah yang diartikan post power syndrome.

Post power syndrome adalah gejala yang terjadi dimana ‘penderita’ hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya (entah jabatannya atau karirnya, kecerdasannya, kepemimpinannya atau hal yang lain), dan seakan-akan tidak bisa memandang realita yang ada saat ini.

Secara umum syndrome ini bisa kita katakan sebagai masa krisis dan kalau digolongkan krisis ini adalah semacam krisis perkembangan. Dalam arti, pada fase-fase tertentu di dalam kehidupan kita, kita bisa mengalami krisis-krisis semacam ini. Pada gejala post power syndrome ini, khususnya adalah krisis yang menyangkut satu jabatan atau kekuasaan, terutama akan terjadi pada orang yang mendasarkan harga dirinya pada kekuasaan. Kalau misalnya dia tidak mendasarkan dirinya pada kekuasaan, gejala ini tidak tampak menonjol

Achiles dengan dongeng nenek Achiles yang sangat terkenal. Disuatu wilayah ada seorang jendral bintang 3 yang cukup dikenal oleh masyarakat luas. Dia dikenal karena dapat memiliki jabatan itu dalam usianya yang cukup muda walaupun jabatannya bukan didapat karena ada suatu pertempuran yang sudah pernah dilaluinya atau bisa dibilang sang jendral ini tidak tahu menahu (namun sok tahu) soal medan pertempuran. Hanya karena dia sudah cukup lama diwilayah kemiliteran, maka pemerintah memberikan jabatan jendral bintang 3 kepadanya.

Suatu saat ada seorang tentara baru yang hadir diwilayah kemiliteran tersebut. Tentara ini sukanya bertempur dan bertempur walaupun sebelumnya dia sama sekali tidak pernah belajar perang. Semangat belajar dari kanan-kiri tentang teknik perang dan strategi perang membuatnya semakin tahu bagaimana teknik terbaik memenangkan sebuah peperangan. Dia akan senang sekali jika komandannya selalu melibatkan dirinya dalam setiap pertempuran, baik itu pertempuran kecil maupun pertempuran besar. Terkadang tentara baru ini mengalami kemenangan dalam pertempuran bersama rekan2nya, namun tidak jarang pula ia mengalami kegagalan dan kekalahan perang. Tetapi di mata masyarakat, tentara ini mulai lebih dikenal karena semangatnya dalam terlibat peperangan dibanding sang Jendral bintang 3 yang lebih suka duduk di kursi Comfort zone nya dan tidak ingin meningkatkan kemampuannya dengan terus belajar dan belajar lagi.

Akhirnya suatu saat pemerintah memberikan lencana jendral bintang 4 kepada tentara baru ini karena sudah banyak jejak pertempuran yang pernah ia dilakukan. Sang jendral muda bintang 3 pun mulai merasa tersaingi kepopulerannya karena pemerintah tidak menaikkan jabatan jendral bintang 3 nya padahal kalau dari segi persenjataan yang dipunyainya, jendral muda bintang 3 ini mempunyai senjata yang lebih kuat dibanding tentara baru. Namun apalah guna senjata yang baik jika tidak pernah di gunakan dalam sebuah pertempuran.

Mulailah Post Power Syndrom menjangkiti sang jendral muda bintang 3. Setiap hari kerjanya hanya mengkritik dan mengkritik namun tidak ada bentuk kongkret contoh yang baik dari dalam dirinya. Senyumnya yang dulu kini menjadi senyum sinis. Post Power Syndrom menggerogoti hati semangat awal jabatan jendralnya. Comfort zone yang dia miliki mulai membawa ia dalam sebuah kemunduran. Namun suatu saat ia mulai belajar dan belajar lagi. Belajar dari orang2 yang dulu ia remehkan keberadaannya. Belajar memahami apa arti pentingnya sebuah pembelajaran dan menghormati seseorang yang menikmati hasil pembelajaran yang lebih banyak dari yang ia dapatkan.

Seringkali dongeng sebelum tidur ini mengingatkan Achiles bahaya sebuah Post Power Syndrom. Karena didalam Post Power Syndrom biasanya di iringi dengan penyakit hati yaitu penyakit iri, penyakit sinis dll. Didalam pemilu 2009 yang nanti akan kita lihat bersama ini, apakah Post Power Syndrom juga akan muncul kepermukaan ? Ataukah Post Power Syndrom sebenarnya juga sedang menggerogoti hati kita masing-masing ? Sebuah pertanyaan yang sia-sia kembali.

  1. GEJALA

1. Gejala fisik, misalnya orang-orang yang mengalami post power syndrome, kadangkala tampak menjadi jauh lebih cepat tua dibanding pada waktu dia menjabat. Tiba-tiba rambutnya menjadi putih semua, berkeriput, menjadi pemurung, dan mungkin juga sakit-sakitan, menjadi lemah tubuhnya.

2. Gejala emosi, misalnya cepat tersinggung, merasa tidak berharga, ingin menarik diri dari lingkungan pergaulan, ingin bersembunyi dan sebagainya.

3. Gejala perilaku, misalnya malu bertemu dengan orang lain, lebih mudah melakukan pola-pola kekerasan atau menunjukkan kemarahan baik di rumah atau di tempat yang lain.

  1. SOLUSI

Bila seorang penderita post-power syndrome dapat menemukan aktualisasi diri yang baru, hal itu akan sangat menolong baginya. Misalnya seorang manajer yang terkena PHK, tetapi bisa beraktualisasi diri di bisnis baru yang dirintisnya (agrobisnis misalnya), ia akan terhindar dari resiko terserang post-power syndrome.

Di samping itu, dukungan lingkungan terdekat, dalam hal ini keluarga, dan kematangan emosi seseorang sangat berpengaruh pada terlewatinya fase post-power syndrome ini. Seseorang yang bisa menerima kenyataan dan keberadaannya dengan baik akan lebih mampu melewati fase ini dibanding dengan seseorang yang memiliki konflik emosi.

Dukungan dan pengertian dari orang-orang tercinta sangat membantu penderita. Bila penderita melihat bahwa orang-orang yang dicintainya memahami dan mengerti tentang keadaan dirinya, atau ketidak mampuannya mencari nafkah, ia akan lebih bisa menerima keadaannya dan lebih mampu berpikir secara dingin. Hal itu akan mengembalikan kreativitas dan produktifitasnya, meskipun tidak sehebat dulu. Akan sangat berbeda hasilnya jika keluarga malah mengejek dan selalu menyindirnya, menggerutu, bahkan mengolok-oloknya.

Post-power syndrome menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita. Kematangan emosi dan kehangatan keluarga sangat membantu untuk melewati fase ini. Dan satu cara untuk mempersiapkan diri menghadapi post-power syndrome adalah gemar menabung dan hidup sederhana. Karena bila post-power syndrome menyerang, sementara penderita sudah terbiasa hidup mewah, akibatnya akan lebih parah.

REFERENSI

Alwisol, (2004). Psikologi kepribadian. Malang: UMM Press.

Handayani, Alva (2007). Pensiun, Bukan Akhir Segalanya. http://www.e-psikologi.com

(Diakses 30 Desember 2007)

Hurlock, E.B, (2006) Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga

by : Rere & friend

This entry was posted in Psikologi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s